Membandingkan Layer 1 vs Layer 2: Solusi Skalabilitas Blockchain yang Mengubah Ekosistem Kripto

Teknologi blockchain telah membuktikan kemampuannya dalam meningkatkan kepercayaan, memperkuat keamanan transaksi, dan meningkatkan transparansi data di seluruh jaringan bisnis. Sistem terdesentralisasi ini beroperasi dengan mengurangi biaya operasional dan menyederhanakan proses yang sebelumnya kompleks. Namun, seiring pesatnya adopsi, pertanyaan mendesak muncul: bagaimana cara membuat blockchain berkembang sesuai permintaan pasar? Di sinilah layer 1 vs layer 2 menjadi topik krusial. Kedua pendekatan ini menawarkan solusi berbeda untuk tantangan skalabilitas yang sama—bagaimana menangani lebih banyak transaksi tanpa mengorbankan keamanan atau desentralisasi.

Untuk tetap kompetitif, ekosistem blockchain perlu mengadopsi inovasi mutakhir seperti teknik scaling canggih, teknologi sharding, protokol keamanan yang ditingkatkan, dan inisiatif desentralisasi yang lebih kuat. Pemahaman mendalam tentang bagaimana layer 1 dan layer 2 berbeda serta bagaimana keduanya dapat bekerja bersama adalah kunci untuk mengoptimalkan jaringan blockchain di masa depan.

Trilemma Blockchain: Mengapa Layer 1 vs Layer 2 Menjadi Penting

Skalabilitas blockchain bukan hanya tantangan teknis—ini adalah masalah fundamental yang dikenal sebagai “Trilemma Blockchain.” Konsep revolusioner ini pertama kali diajukan oleh Vitalik Buterin, salah satu pendiri Ethereum, dan telah membentuk cara industri berpikir tentang desain blockchain.

Trilemma Blockchain menyatakan bahwa sistem blockchain menghadapi dilemma yang tampak tidak dapat diselesaikan: mereka harus menyeimbangkan tiga properti esensial—desentralisasi, skalabilitas, dan keamanan. Menurut konsep ini, mustahil untuk mencapai ketiga-tiganya secara optimal pada waktu yang bersamaan. Setiap proyek kripto akhirnya harus mengorbankan salah satu dari tiga kualitas ini untuk mencapai tingkat kompromi yang dapat diterima.

Itulah mengapa layer 1 vs layer 2 menjadi diskusi yang begitu penting. Layer 1 (blockchain dasar) berusaha menyelesaikan trilemma dengan memodifikasi protokol dasarnya, sementara layer 2 (solusi di atas blockchain) memilih pendekatan yang lebih ringan dengan membangun di atas fondasi yang sudah ada. Menemukan keseimbangan sempurna antara ketiga faktor ini sangat krusial untuk adopsi blockchain jangka panjang. Oleh karena itu, inovasi berkelanjutan dalam berbagai mekanisme pemecahan masalah diperlukan untuk mengatasi tantangan yang terus berkembang ini.

Memahami Perbedaan: Layer 1 vs Layer 2 Pada Jaringan Blockchain

Sebelum mendalami solusi spesifik, penting untuk memahami bagaimana layer 1 dan layer 2 berbeda secara fundamental. Keduanya menggunakan mekanisme yang sama sekali berbeda untuk mencapai tujuan skalabilitas mereka.

Layer 1 (Blockchain Dasar) mencakup:

  • Sharding: Sistem terdistribusi yang membagi keseluruhan status jaringan blockchain menjadi potongan data yang lebih kecil (shards), memungkinkan pemrosesan paralel
  • Perubahan Mekanisme Konsensus: Migrasi dari Proof-of-Work (PoW) ke Proof-of-Stake (PoS) untuk meningkatkan skalabilitas sambil mengurangi konsumsi energi
  • SegWit (Segregated Witness): Teknik yang memisahkan data tanda tangan dari data transaksi untuk mengoptimalkan ruang blok

Layer 2 (Solusi Tambahan) mencakup:

  • State Channels: Memfasilitasi transaksi off-chain antara pihak-pihak tanpa perlu menyiarkan setiap transaksi ke seluruh jaringan
  • Sidechains: Jaringan blockchain independen yang terhubung melalui bridge untuk meningkatkan interoperabilitas
  • Rollups: Mengumpulkan data transaksi dan memindahkannya dari chain utama, mengeksekusi transaksi off-chain sambil menyimpan jaminan keamanan on-chain

Perbedaan ini bukan hanya akademis—mereka memiliki implikasi praktis yang signifikan untuk kinerja jaringan, biaya pengguna, dan distribusi keamanan.

Solusi Layer 1: Meningkatkan Kapasitas Blockchain Dasar

Layer 1 adalah fondasi dari semua operasi blockchain, dikenal juga sebagai blockchain dasar atau mainchain. Solusi skalabilitas Layer 1, yang juga disebut skalabilitas on-chain, bekerja dengan memberdayakan jaringan untuk menangani transaksi langsung pada blockchain mereka sendiri tanpa memerlukan lapisan tambahan.

Bitcoin dan Ethereum adalah dua contoh paling terkenal dari jaringan Layer 1. Kedua sistem menggunakan model konsensus terdesentralisasi untuk mengamankan transaksi, di mana banyak node tersebar di seluruh jaringan memverifikasi dan menyetujui setiap transaksi sebelum ditambahkan ke dalam blok. Namun, popularitas yang meningkat pesat menghasilkan permintaan yang terus bertumbuh untuk waktu konfirmasi yang lebih cepat dan biaya transaksi yang lebih rendah.

Solusi Layer 1 menyediakan berbagai metode untuk peningkatan langsung dalam skalabilitas jaringan blockchain. Strategi umum termasuk memodifikasi aturan protokol dasar, meningkatkan ukuran blok, dan mempercepat waktu pembuatan blok. Untuk menerapkan perubahan ini, komunitas jaringan sering harus melakukan hard fork atau soft fork—seperti upgrade SegWit Bitcoin yang terkenal.

Metode alternatif lainnya untuk meningkatkan throughput jaringan adalah sharding. Sharding membagi operasi blockchain menjadi segmen-segmen kecil yang dapat memproses data secara simultan daripada sekuensial, secara dramatis meningkatkan kapasitas jaringan secara keseluruhan.

Bagaimana Layer 1 Meningkatkan Skalabilitas: Dari Sharding hingga Proof-of-Stake

Teknologi Sharding

Sharding adalah metode yang terinspirasi dari arsitektur basis data terdistribusi. Ini adalah pendekatan skalabilitas Layer 1 yang menonjol karena membagi status seluruh jaringan blockchain menjadi porsi data yang lebih dapat dikelola. Potongan-potongan ini disebut “shards.”

Setiap node dalam jaringan ditugaskan pada shard tertentu. Setiap shard secara independen memproses banyak transaksi secara simultan, yang secara signifikan meningkatkan kinerja jaringan keseluruhan. Shard-shard ini berinteraksi satu sama lain melalui protokol komunikasi khusus untuk berbagi informasi tentang alamat, saldo, dan status jaringan global.

Contoh nyata adalah Zilliqa, yang mengimplementasikan “transaction-based sharding.” Dalam sistem ini, transaksi dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diproses secara paralel oleh shard yang berbeda, menghasilkan peningkatan throughput yang signifikan.

Transisi ke Proof-of-Stake (PoS)

Proof-of-Stake adalah mekanisme konsensus yang lebih efisien dibandingkan Proof-of-Work. Sistem ini menggunakan energi jauh lebih sedikit—faktor penting dalam dunia di mana industri semakin mencari alternatif ramah lingkungan.

Dalam PoS, alih-alih meminta penambang untuk menyelesaikan masalah kriptografi yang kompleks (seperti dalam PoW), peserta jaringan menempatkan jaminan (stake) mereka untuk mengonfirmasi blok baru. Mekanisme ini tidak hanya lebih hemat energi tetapi juga dapat meningkatkan skalabilitas, keamanan, dan efisiensi secara bersamaan.

Transisi Ethereum ke Ethereum 2.0 melibatkan adopsi mekanisme konsensus PoS, sebuah langkah bersejarah yang meningkatkan skalabilitas Ethereum dari kapasitas saat ini sekitar 30 transaksi per detik (TPS) dengan tujuan ambisius hingga 100.000 TPS. Peningkatan ini akan secara fundamental mengatasi kemacetan jaringan yang telah menjadi kendala utama Ethereum, memberikan pengalaman pengguna yang jauh lebih lancar dan efisien.

SegWit: Optimisasi Data Transaksi

SegWit (Segregated Witness) adalah metode inovatif yang memisahkan data tanda tangan digital dari data transaksi utama dan menghilangkan beberapa informasi redundan dari transaksi. Hasilnya adalah blok dapat memproses lebih banyak transaksi dalam space yang sama.

SegWit secara elegan mengatasi batasan ukuran blok Bitcoin yang keras—setiap blok dibatasi pada ukuran maksimum 1 MB, yang berarti hanya sejumlah transaksi terbatas yang dapat ditampung. Ketika lalu lintas jaringan tinggi, pembatasan ini mengakibatkan penundaan pemrosesan yang signifikan.

Dengan mengecualikan data tanda tangan dan menyimpannya dalam struktur terpisah, SegWit mengurangi bobot transaksi dan mempercepat beban pemrosesan. Karena tanda tangan digital sendiri mengkonsumsi sekitar 65% dari ruang dalam transaksi tertentu, struktur witness yang baru sekarang hanya memakan sekitar seperempat dari ukuran aslinya.

Fitur penting dari SegWit adalah backward compatibility—node yang telah mengadopsi protokol baru dapat berinteraksi seamlessly dengan node lama, memungkinkan transisi yang mulus dan meminimalkan disruption jaringan.

Contoh Proyek Layer 1 dan Mekanisme Mereka

Solusi Layer 1 adalah peningkatan pada arsitektur jaringan blockchain utama yang tidak memerlukan penambahan overlay atau sistem terpisah. Mereka meningkatkan efisiensi jaringan dengan memodifikasi arsitektur fundamental atau protokol inti.

Berbagai teknik digunakan untuk mencapai skalabilitas Layer 1. Beberapa fokus pada peningkatan jumlah data dalam setiap blok atau percepatan proses konfirmasi blok. Lainnya membuat peningkatan pada protokol konsensus atau mengimplementasikan sharding. Berikut adalah beberapa proyek yang memimpin:

  • Ethereum 2.0: Transisi dari PoW ke PoS, dengan implementasi sharding untuk throughput yang lebih tinggi
  • Cardano: Menggunakan mekanisme konsensus Ouroboros PoS yang menawarkan skalabilitas tinggi dengan efisiensi energi
  • Algorand: Menerapkan konsensus PoS murni dengan fokus pada kecepatan transaksi dan finality
  • Fantom: Menggunakan konsensus aBFT (Asynchronous Byzantine Fault Tolerance) untuk throughput tinggi
  • Bitcoin dengan SegWit: Implementasi SegWit yang meningkatkan kapasitas transaksi tanpa mengubah ukuran blok fundamental

Keunggulan Solusi Scaling Layer 1

Solusi Layer 1 menawarkan beberapa keuntungan substansial dibandingkan pendekatan Layer 2:

Tidak Memerlukan Chain Terpisah: Solusi Layer 1 tidak membutuhkan chain terpisah atau infrastruktur pendukung yang dapat mengganggu struktur dasar blockchain. Sebaliknya, mereka memodifikasi aturan protokol untuk meningkatkan kapasitas dan kecepatan transaksi sekaligus melayani lebih banyak pengguna dan data.

Perubahan Protokol untuk Skalabilitas Jangka Panjang: Dengan mengubah protokol dasar jaringan, solusi Layer 1 menghasilkan manfaat jangka panjang yang mencakup peningkatan throughput transaksi, efisiensi jaringan yang lebih baik, keamanan yang ditingkatkan, biaya transaksi yang lebih rendah, dan skalabilitas yang berkelanjutan sambil mempertahankan desentralisasi.

Pengurangan Biaya Transaksi: Dengan mengurangi kemacetan jaringan, pengguna tidak perlu lagi bersaing sengit untuk ruang blok yang terbatas, yang secara alami menurunkan biaya. Alih-alih membangun di atas protokol dasar seperti solusi Layer 2, solusi Layer 1 memberikan efek permanen pada skalabilitas melalui perubahan fundamental.

Preservasi Desentralisasi: Dengan mengadaptasi perubahan protokol konsensus secara langsung dan transparan, solusi Layer 1 memastikan bahwa jaringan tetap terdesentralisasi dan dikendalikan oleh penggunanya, bukan oleh sekelompok kecil entitas. Lingkungan terbuka ini memfasilitasi integrasi alat dan pengembangan baru secara sederhana, menjadikan solusi Layer 1 sangat versatile dan customizable untuk berbagai kebutuhan blockchain.

Keterbatasan Solusi Layer 1 yang Perlu Dipertimbangkan

Meskipun memiliki keunggulan, solusi Layer 1 juga menghadapi beberapa tantangan signifikan:

Dampak pada Revenue Penambang/Validator: Ketika jaringan bertransisi ke mekanisme yang lebih efisien (seperti PoS), validator mungkin mengalami pengurangan revenue karena sistem baru membutuhkan energi dan resources yang lebih sedikit. Ini dapat membatasi insentif mereka untuk meningkatkan skalabilitas.

Keterbatasan Hardware Node Individual: Terlepas dari penelitian ekstensif tentang solusi Layer 1, ada batasan teknis yang nyata. Keterbatasan storage dan bandwidth pada node individual menciptakan tantangan performa yang signifikan dalam sistem blockchain yang tersebar.

Potensi Congestion Meskipun Diimprove: Ketika volume transaksi per detik (TPS) meningkat, lebih banyak data blok menyebar di seluruh jaringan, yang berpotensi menciptakan kemacetan bahkan dengan solusi Layer 1 yang diterapkan.

Kompleksitas Transaksi Cross-Shard: Sharding adalah salah satu solusi paling menjanjikan, namun meningkatkan efisiensi transaksi lintas-shard masih menjadi pekerjaan yang sedang berlangsung. Transaksi cross-shard memerlukan bandwidth lebih besar dan menghasilkan waktu konfirmasi yang lebih panjang. Metode yang lebih efektif dibutuhkan untuk mengurangi latency, dan masih banyak potensi pengembangan di bidang ini.

Solusi Layer 2: Skalabilitas Melalui Lapisan Tambahan

Layer 2 adalah istilah yang merujuk pada jaringan, sistem, atau teknologi apa pun yang beroperasi di atas blockchain Layer 1 untuk menyediakan fitur tambahan dan peningkatan fungsi. Konsepnya sederhana namun powerful: membiarkan blockchain dasar fokus pada keamanan dan desentralisasi, sementara lapisan tambahan menangani skalabilitas.

Jaringan Layer 2 harus memastikan keamanan blockchain dasar dengan mengonfirmasi transaksi mereka melalui jaringan Layer 1. Ini membedakan Layer 2 dari sistem seperti sidechain, yang sering memiliki mekanisme konsensus dan jaminan keamanan yang berbeda.

Layer 2 menawarkan solusi elegan untuk blockchain yang menghadapi masalah skalabilitas. Solusi ini memungkinkan transaksi yang lebih cepat dan efisien sambil mempertahankan desentralisasi dan keamanan dari Layer 1. Dengan pendekatan ini, ekosistem blockchain dapat mencapai kompromi yang lebih baik terhadap trilema—mendekatkan keseimbangan ketiga properti tersebut.

Tiga Kategori Utama Solusi Layer 2

Rollups: Batching dan Off-Chain Execution

Rollups meningkatkan skalabilitas dengan menjalankan transaksi dan smart contract di luar blockchain utama (off-chain) dan hanya memvalidasi hasilnya di dalam chain (on-chain). Strategi ini menghasilkan throughput yang jauh lebih tinggi dan biaya yang signifikan lebih rendah dibandingkan dengan transaksi tradisional on-chain.

Rollups mencapai skalabilitas melalui tiga mekanisme utama:

  1. Off-Chain Execution: Jaringan Layer 2 melakukan transaksi atas nama blockchain utama, baik dengan pengguna lain maupun dengan smart contract. Beban kerja blockchain utama berkurang secara drastis karena hanya perlu menjalankan verifikasi dan menyimpan raw transaction data, menghasilkan biaya transaksi yang jauh lebih murah.

  2. Transaction Batching: Rollup mengumpulkan banyak batch dari raw transaction data ke dalam satu batch yang lebih besar dan mengunggahnya ke blockchain. Teknik ini secara signifikan meningkatkan efisiensi ruang.

  3. Minimal Honest Validator Requirement: Rollups hanya memerlukan satu validator jujur untuk memverifikasi transaksi di Layer 1. Ini meminimalkan jumlah validator yang diperlukan sambil sebenarnya meningkatkan persyaratan hardware tanpa mengorbankan keamanan.

State Channels: Transaksi Off-Chain Antar Pihak

State channels adalah solusi Layer 2 yang memungkinkan berbagai pihak melakukan sejumlah transaksi off-chain tanpa perlu menyiarkan setiap transaksi ke seluruh jaringan. Kanal transaksi off-chain ini meningkatkan skalabilitas dengan secara dramatis mengurangi jumlah transaksi yang diproses oleh jaringan dan biaya terkait.

Lightning Network adalah implementasi paling terkenal dari konsep state channel. Beroperasi di atas blockchain Bitcoin, Lightning Network memungkinkan pengguna melakukan transaksi off-chain multiple dengan waktu penyelesaian yang jauh lebih cepat dan biaya yang signifikan lebih rendah, sambil secara substansial meningkatkan skalabilitas Bitcoin.

Sidechains: Blockchain Independen yang Terhubung

Sidechain adalah jaringan blockchain independen yang terhubung ke blockchain utama melalui sistem two-way peg atau bridge. Sidechain memiliki mekanisme konsensus mereka sendiri yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan transaksi spesifik, menjadikannya lebih efisien dan cost-effective.

Penting untuk dicatat bahwa sidechain tidak mewarisi fitur keamanan dari blockchain utama. Pengguna harus sepenuhnya bergantung pada keamanan sidechain itu sendiri, termasuk validator yang berpartisipasi dalam prosesnya.

Sidechain menyediakan solusi untuk kemacetan blockchain utama, mengurangi biaya bagi semua pengguna sambil meningkatkan skalabilitas dan kegunaan ekosistem secara keseluruhan. Pengembang juga dapat menggunakan sidechain sebagai testing ground untuk fitur baru dan use case yang belum tersedia di blockchain utama.

Polygon PoS, Skale, dan Rootstock adalah beberapa sidechain populer. Ethereum 2.0 juga memiliki bentuk shard chain sendiri yang terhubung dengan Beacon Chain baru, yang diperkirakan akan menjadi blockchain utama Ethereum berbasis PoS di masa depan.

Contoh Proyek Layer 2 Terkemuka

Arbitrum, Lightning Network, Optimism, dan Polygon adalah blockchain Layer 2 paling populer dan berpengaruh:

Arbitrum: Solusi Layer 2 berbasis Ethereum yang menggunakan Optimistic Rollups untuk meningkatkan efisiensi. Platform memiliki throughput yang jauh lebih baik dan biaya jauh lebih rendah dibandingkan Ethereum mainnet, sambil tetap memanfaatkan keamanan dan interoperabilitas blockchain utama Ethereum. Token native Arbitrum (ARB) saat ini diperdagangkan pada $0.10 dengan perubahan 24 jam sebesar -0.51%. Platform telah beralih ke struktur Autonomous Decentralized Organization (DAO), memberikan governance kepada community.

Lightning Network: Solusi Layer 2 untuk Bitcoin yang dirancang untuk membuat transaksi Bitcoin lebih cepat dan lebih murah. Network memungkinkan jaringan Bitcoin untuk memproses transaksi secara lebih efisien dengan mengalihkan permintaan transaksi tertentu ke Lightning Network. Tujuan Lightning adalah membuat Bitcoin berfungsi lebih seperti uang digital peer-to-peer, dengan biaya minimal dan konsumsi energi yang jauh lebih sedikit dibandingkan blockchain utama.

Optimism: Blockchain Layer 2 yang dibangun di atas Ethereum menggunakan optimistic rollups. Platform berkontribusi pada scaling ekosistem Ethereum sambil tetap memanfaatkan keamanan mainnet Ethereum. Optimism memiliki ekosistem yang kaya dengan 97 protokol, termasuk Synthetix (SNX) dengan harga $0.40 dan perubahan +15.80% dalam 24 jam, Uniswap (UNI) pada $3.51 dengan perubahan +3.63%, dan Velodrome (VELO) pada $0.00 dengan perubahan -0.94%. Total value locked melebihi $500 juta. Pengguna dapat dengan mudah mengakses Optimism dengan menambahkan chain ke dompet MetaMask mereka dan menjembatani aset seperti ETH ke platform Layer 2 ini.

Polygon: Jaringan Polygon bermaksud mengatasi tantangan Ethereum—seperti biaya tinggi dan throughput transaksi rendah—dengan menciptakan “internet of blockchains.” Visi ini memungkinkan pengembang meluncurkan blockchain kompatibel-Ethereum dengan cepat. Inisiatif ini membayangkan ekosistem di mana blockchain dapat saling bertukar nilai dan pengetahuan secara bebas dan mudah, menjembatani batasan teknologi dan ideologi. Polygon direbranding dari Matic Network untuk mencerminkan ambisi yang lebih luas sebagai tulang punggung untuk jaringan yang highly scalable dan kolaboratif.

Keunggulan Solusi Layer 2

Solusi Layer 2 menawarkan berbagai keuntungan praktis:

  1. Efisiensi Melalui Optimistic Rollups: Arbitrum memanfaatkan optimistic rollups untuk secara dramatis meningkatkan efisiensi, menghasilkan throughput yang lebih tinggi dan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan Ethereum. Platform menggunakan token native ARB untuk governance dan telah mengadopsi struktur DAO.

  2. Kecepatan Transaksi dan Efisiensi Energi: Lightning Network membuat transaksi Bitcoin lebih cepat dan terjangkau, memungkinkan cryptocurrency untuk berfungsi lebih seperti uang digital peer-to-peer. Network ini juga secara signifikan mengurangi konsumsi energi dibandingkan blockchain utama.

  3. Scaling Ekosistem Ethereum: Optimism berkontribusi pada scaling ekosistem Ethereum melalui optimistic rollups, memenuhi kebutuhan skala yang terus berkembang. Platform menyediakan aksesibilitas yang sederhana dengan opsi untuk menambahkan chain ke dompet Metamask dan menjembatani token.

  4. Internet of Blockchains: Visi Polygon tentang “internet of blockchains” memungkinkan blockchain untuk bertukar nilai dan informasi secara bebas, mengatasi hambatan teknologi dan ideologi yang sebelumnya membatasi interoperabilitas.

Tantangan dan Keterbatasan Layer 2

Meskipun powerful, solusi Layer 2 menghadapi beberapa batasan:

  • Konektivitas Terbatas Antar Protocol: Satu dApp di Layer 2 mungkin kesulitan terhubung dengan dApp Layer 2 lainnya pada protocol berbeda atau dengan dApp di blockchain Layer 1. Ini dapat menyebabkan pengalaman pengguna yang terfragmentasi.

  • Fragmentasi Likuiditas: Menciptakan ekosistem terpisah di Layer 2 dapat mengakibatkan distribusi likuiditas yang lebih tipis. Ethereum, misalnya, bergantung pada pasar yang kuat dan likuid untuk semua produk keuangan dan token di platformnya.

  • Kompleksitas Onboarding: Menambahkan berbagai solusi Layer 2 di atas protokol blockchain Layer 1 dapat meningkatkan hambatan dan waktu onboarding. Transfer data dan informasi mungkin memerlukan banyak akun dan bridge yang berbeda, membuat konsumen kesulitan melacak dana mereka dan memastikan keamanan di berbagai protokol Layer 2.

Perbandingan Langsung: Layer 1 vs Layer 2 Dalam Praktik

Pertanyaan sentral dalam diskusi layer 1 vs layer 2 adalah bagaimana keduanya berperilaku dan berfungsi dalam praktik. Tidak ada gunanya membandingkan mereka semata berdasarkan manfaat untuk ekosistem, karena masing-masing memiliki kualitas dan use case yang berbeda.

Blockchain Layer 1 adalah jaringan mandiri yang mencakup semua lapisan kritis—ketersediaan data, mekanisme konsensus, dan eksekusi transaksi. Layer 1 berfokus pada keamanan dan menyediakan fondasi yang kokoh untuk solusi Layer 2 yang dibangun di atasnya.

Solusi skalabilitas Layer 2 bergantung pada blockchain Layer 1 dan ada untuk mendukung dan melengkapinya. Mereka tidak menggantikan Layer 1 tetapi memperluas kemampuannya.

Blockchain Layer 1 mencapai skalabilitas melalui metode seperti memodifikasi algoritma konsensus dan menerapkan sharding. Solusi Layer 2 menggunakan state channels, blockchain nested, rollups, dan sidechains untuk meningkatkan kinerja jaringan, kemampuan pemrograman, throughput transaksi, dan mengurangi biaya.

Jaringan Layer 1 bertindak sebagai source of truth dan bertanggung jawab akhir untuk settlement transaksi. Mereka juga memiliki token native untuk mengakses resources jaringan dan sering menjadi pelopor dalam inovasi mekanisme konsensus baru.

Solusi Layer 2 menawarkan fungsi serupa dengan Layer 1 tetapi dengan benefit tambahan seperti kinerja yang ditingkatkan dan biaya transaksi yang lebih rendah. Setiap solusi Layer 2 memiliki metode unik untuk memetakan transaksi kembali ke jaringan Layer 1 yang mendasarinya, memastikan keamanan tanpa mengorbankan efisiensi.

Dampak Ethereum 2.0 pada Strategi Layer 1 dan Layer 2

Upgrade Ethereum 2.0 yang terus berkembang menandai momen transformatif yang dapat mengubah both Layer 1 dan Layer 2 blockchain. Sejak The Merge—ketika Ethereum beralih dari mekanisme konsensus Proof of Work ke Proof of Stake—developer blockchain telah berupaya untuk meningkatkan efisiensi, skalabilitas, dan keamanan jaringan secara bersamaan.

Ethereum 2.0 merupakan langkah signifikan dalam meningkatkan skalabilitas dan throughput Ethereum dengan tujuan ambisius memproses hingga 100.000 transaksi per detik—peningkatan dramatis dari kapasitas saat ini sekitar 30 TPS. Upgrade ini mengatasi masalah kemacetan yang telah lama menjadi kendala utama jaringan Ethereum, memberikan pengalaman pengguna yang lebih lancar dan efisien.

Namun, Ethereum 2.0 tidak membuat solusi Layer 2 menjadi usang atau tidak relevan. Sebaliknya, upgrade ini menegaskan peran kritis Layer 2 dalam strategi skalabilitas Ethereum jangka panjang. Solusi Layer 2 terus menawarkan keuntungan unik, termasuk memungkinkan operasi DeFi yang complex dan interoperabilitas antara berbagai protokol blockchain.

Meskipun Ethereum 2.0 membawa improvement yang signifikan, ada keterbatasan inheren dalam hanya mengandalkan skalabilitas Layer 1. Salah satu batasan utama adalah composability—kemampuan berbagai protokol untuk berinteraksi seamlessly. Layer 2 menawarkan composability yang terbatas across chains, yang dapat menghasilkan pengalaman pengguna yang terfragmentasi. Namun, proyek seperti Polygon aktif menjembatani celah ini dengan menyediakan solusi Layer 2 yang interoperable, meskipun implementasi penuh mungkin memerlukan waktu lebih.

Aplikasi dan Implikasi Dunia Nyata

Solusi skalabilitas, baik Layer 1 maupun Layer 2, memiliki berbagai aplikasi praktis yang mengubah industri dan use case blockchain.

Aplikasi Keuangan Terdesentralisasi (DeFi)

Ethereum, salah satu blockchain Layer 1 paling berpengaruh, menawarkan ekosistem yang kaya untuk aplikasi DeFi. Proyek seperti MakerDAO menggunakan smart contract Ethereum yang sophisticated untuk menciptakan DAI, stablecoin yang dijamin oleh Ether (ETH) dan dianchorkan pada $1. ETH saat ini diperdagangkan pada $1.96K dengan perubahan 24 jam sebesar +0.45%.

Ethereum juga menyediakan pinjaman yang didukung smart contract, aplikasi fintech lainnya, perdagangan dan pembayaran, serta solusi penyimpanan data. Teknologi blockchain-nya yang mampu mentransfer data dengan aman di antara jutang server memiliki potensi untuk merevolusi cara kita menyimpan dan membagikan informasi.

Lightning Network adalah solusi Layer 2 terkenal lainnya yang dapat mentransformasi transaksi digital dan aplikasi finansial. Network menyediakan transaksi yang lebih cepat, lebih murah, dan lebih scalable, memungkinkan use case yang sebelumnya tidak mungkin dengan blockchain Layer 1. Aplikasi mencakup pembayaran mikro, remitansi, gaming, dan settlement cepat.

Dalam domain pembayaran mikro, contohnya, Nostr—jaringan sosial terdesentralisasi—menggunakan Lightning Network untuk memungkinkan pengguna mengirim dan menerima micropayments di dalam platform. Strike, aplikasi smartphone, memanfaatkan Lightning untuk menyediakan transaksi uang lintas-border yang cepat dan berbiaya rendah. THNDR Games mengintegrasikan Lightning ke dalam game mobile mereka untuk pengalaman yang thrilling dan immersive. OpenNode, teknologi pemrosesan pembayaran, memungkinkan merchant menerima pembayaran Bitcoin melalui Lightning Network, mengurangi biaya dan menawarkan near-instant settlement.

Polygon juga memiliki dampak signifikan pada pasar DeFi. Network memiliki TVL (Total Value Locked) di area DeFi sekitar $1,3 miliar pada Juni 2023 dan digunakan oleh platform DeFi terbesar. Compound (COMP) diperdagangkan pada $18.14 dengan perubahan +0.55%, dan Aave (AAVE) pada $115.90 dengan perubahan -6.78%. Polygon mendukung perdagangan NFT dan menawarkan biaya transaksi minimal untuk pembelian dan penjualan NFT.

Pasar NFT dan Digital Collectibles

Ethereum adalah fondasi dari pasar NFT global, memungkinkan monetisasi karya seni, musik, dan media lainnya melalui token non-fungible. Revolusi ini telah menciptakan ekonomi baru untuk creator digital.

Polygon, sebagai solusi Layer 2, memiliki dampak signifikan pada marketplace NFT dengan mengurangi hambatan biaya. Network mendukung perdagangan NFT dan menawarkan biaya transaksi yang minimal, membuat NFT lebih accessible untuk mass market.

Gaming dan Web 3 Entertainment

Polygon mendirikan divisi Polygon Studios pada Juli 2021 dengan misi untuk mentransisikan game dari Web 2.0 ke Web 3.0. Divisi ini membantu creator yang tertarik membangun game di Polygon dengan menyediakan marketing support, community assistance, dan investasi.

Kekuatan network Ethereum yang dikombinasikan dengan teknologi scaling Commit Chain dari Polygon dapat mengurangi concerns terkait network latency yang lambat dan tingkat transaksi dalam blockchain-based games. Polygon juga meningkatkan efisiensi perdagangan in-game NFT, seperti yang terlihat pada beberapa GameFi dan NFT dApps yang menggunakan Polygon untuk meningkatkan user experience.

Masa Depan Skalabilitas Blockchain: Apa yang Akan Datang

Solusi scaling untuk protokol blockchain sedang dalam tahap penelitian dan pengembangan yang intensif untuk memenuhi kebutuhan masa depan. Developer bekerja pada sharding, transaksi off-chain, dan solusi Layer 2 untuk meningkatkan throughput sistem dan skalabilitas jaringan blockchain.

Tujuan solusi ini adalah mengatasi kekurangan blockchain yang inherit, seperti kecepatan transaksi yang lambat dan biaya tinggi, membuat blockchain lebih accessible untuk aplikasi mainstream. Pendekatan blockchain hybrid yang menggabungkan keunggulan dari kedua metode dapat mencapai hasil optimal.

Berbagai strategi scaling dapat membuat blockchain lebih mudah digunakan, lebih cepat, dan lebih ramah untuk pengguna baru. Masa depan solusi scaling blockchain akan sangat mempengaruhi adopsi mainstream cryptocurrency.

Seiring dengan peningkatan skalabilitas jaringan blockchain, mereka akan menjadi lebih mudah digunakan untuk transaksi blockchain sehari-hari dan aplikasi mainstream lainnya. Ini akan meningkatkan daya tarik dan adopsi cryptocurrency, membuatnya lebih accessible untuk audiens yang lebih luas.

Selain itu, dengan skalabilitas yang terus meningkat, blockchain akan lebih mampu memenuhi permintaan yang berkembang untuk DeFi dan aplikasi berbasis blockchain lainnya. Karena layanan blockchain menyediakan banyak solusi untuk masalah dunia nyata, pengembangan dan ekspansi mereka adalah keharusan di era digital ini.

Inovasi seperti LayerZero terus mendorong batas-batas apa yang mungkin dalam interoperabilitas dan skalabilitas cross-chain.

Kesimpulan: Membangun Masa Depan Blockchain yang Scalable

Masa depan solusi skalabilitas blockchain tampak sangat menjanjikan, dengan penelitian dan pengembangan berkelanjutan yang memastikan peningkatan berkelanjutan dalam skalabilitas jaringan blockchain. Pendekatan hybrid yang menggabungkan solusi Layer 1 dan Layer 2 menambah potensi yang exciting untuk ekosistem blockchain.

Pemahaman tentang layer 1 vs layer 2 adalah kunci untuk mengoptimalkan strategi blockchain masa depan. Dampak dari inisiatif-inisiatif skalabilitas ini terhadap adopsi cryptocurrency mainstream tidak dapat diabaikan, karena jaringan blockchain yang lebih scalable akan jauh lebih baik dalam mengelola permintaan yang terus berkembang untuk keuangan terdesentralisasi dan aplikasi berbasis blockchain lainnya.

Kita sedang bergerak menuju lingkungan digital yang jauh lebih usable, accessible, dan aman berkat peningkatan-peningkatan ini dalam infrastruktur blockchain. Ini adalah waktu yang menarik untuk terlibat dengan sektor blockchain, dengan peluang yang tak terbatas di depan mata. Dengan Layer 1 yang menyediakan foundation yang kokoh dan Layer 2 yang memberikan skalabilitas praktis, ekosistem blockchain siap untuk transformasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan

Perdagangkan Kripto Di Mana Saja Kapan Saja
qrCode
Pindai untuk mengunduh aplikasi Gate
Komunitas
Bahasa Indonesia
  • 简体中文
  • English
  • Tiếng Việt
  • 繁體中文
  • Español
  • Русский
  • Français (Afrique)
  • Português (Portugal)
  • Bahasa Indonesia
  • 日本語
  • بالعربية
  • Українська
  • Português (Brasil)