Pasar taksi penerbangan komersial sedang dengan cepat beralih dari konsep ke kenyataan, dengan beberapa perusahaan berlomba untuk menempatkan diri mereka dalam industri yang bisa menjadi bernilai triliunan dolar. Seiring percepatan persetujuan regulasi dan penguatan kemitraan strategis, beberapa kandidat saham taksi terbang semakin mendapatkan momentum di sektor mobilitas udara perkotaan yang sedang berkembang. Berikut tiga perusahaan yang patut dipantau saat ruang eVTOL (electric vertical takeoff and landing) berkembang.
Joby Aviation — Memimpin Perlombaan Taksi Udara dengan Dukungan Strategis
Joby Aviation (NYSE: JOBY) telah memposisikan dirinya sebagai salah satu yang terdepan meskipun volatilitas saham belakangan ini. Perusahaan ini maju pesat melalui tonggak regulasi yang paling penting untuk komersialisasi. Menurut Joby, layanan taksi udara bisa diluncurkan dalam waktu dekat seiring perusahaan melanjutkan proses sertifikasi FAA.
Dukungan dari Toyota dan Delta Air Lines menunjukkan kepercayaan institusional terhadap teknologi Joby. Investasi Toyota sebesar 400 juta dolar dan komitmen Delta sebesar 60 juta dolar menegaskan komitmen dari pemain besar yang memahami logistik penerbangan. Selain itu, Joby mengamankan kontrak sebesar 131 juta dolar untuk pengiriman pesawat ke Pangkalan Udara MacDill, memberikan visibilitas pendapatan sekaligus validasi sistemnya yang setara militer.
Perusahaan ini telah menyelesaikan Tahap 3 dari proses sertifikasi FAA dan kini melakukan pengujian penerbangan kritis yang “dapat dikreditkan”. Kesepakatan definitif dengan Dubai yang memberikan hak operasi eksklusif selama enam tahun di pasar tersebut menandakan adanya daya tarik komersial nyata. Dari segi keuangan, Joby mempertahankan kas dan investasi jangka pendek sebesar 1 miliar dolar pada akhir tahun 2023, menyediakan landasan untuk pengembangan. Hasil kuartalan terbaru juga menunjukkan peningkatan metrik, dengan laba dan pendapatan keduanya melampaui ekspektasi analis.
Archer Aviation — Meningkatkan Produksi eVTOL dengan Kemitraan Stellantis
Archer Aviation (NYSE: ACHR) menghadapi tantangan komersialisasi dari sudut pandang berbeda—melalui kemitraan strategis di bidang otomotif. Perusahaan menargetkan uji coba taksi udara listrik di India pada 2025, mempersiapkan jalur untuk operasi komersial pada 2026. Diversifikasi geografis ini menunjukkan kepercayaan terhadap jalur regulasi di luar negeri dan pendekatan pragmatis dalam memasuki pasar.
Perkembangan penting adalah kemitraan Archer dengan Stellantis, raksasa otomotif global. Stellantis meningkatkan sahamnya sebesar 15,6 juta dolar dan berkomitmen untuk “menyerap sebagian besar pengeluaran modal dan kebutuhan modal kerja untuk memproduksi pesawat kami secara skala besar.” Pengaturan ini mengatasi hambatan utama bagi perusahaan eVTOL—skala produksi yang terjangkau. CEO Archer, Adam Goldstein, menekankan bahwa sedikit perusahaan taksi terbang yang telah mengamankan hubungan serupa dengan produsen mobil besar, memberi Archer keunggulan dalam mengelola arus kas selama fase pertumbuhan.
Perusahaan juga sedang menuju sertifikasi tipe FAA. Archer telah memulai pembangunan pesawat Midnight khusus untuk pengujian penerbangan “dapat dikreditkan” dengan FAA, dengan target sertifikasi tipe pada 2025. Peluncuran layanan komersial di New York City menunjukkan kepercayaan terhadap hasil regulasi jangka pendek dan permintaan pasar nyata untuk layanan taksi udara.
Lilium — Membangun Infrastruktur untuk Mobilitas Udara Eropa
Lilium (NASDAQ: LILM) mengambil pendekatan berfokus pada kemitraan dalam mengembangkan bisnis taksi terbangnya. Dengan harga saham yang jauh lebih rendah dibandingkan pesaing, Lilium baru-baru ini menandatangani nota kesepahaman dengan Lufthansa Group untuk menjajaki operasi pesawat eVTOL di seluruh Eropa. Kemitraan ini menghubungkan teknologi Lilium dengan salah satu operator penerbangan paling mapan di dunia.
Lilium juga bermitra dengan Atlantic Aviation untuk mengembangkan infrastruktur layanan mobilitas udara regional di Amerika Serikat. Investasi infrastruktur ini sangat penting karena operasi taksi terbang membutuhkan fasilitas darat, pusat perawatan, dan koordinasi operasional—tantangan yang melampaui desain pesawat murni.
Tonggak teknis utama adalah dimulainya produksi paket baterai berstandar penerbangan canggih untuk pesawat Lilium Jet. Perusahaan menekankan pengujian ekstensif komponen baterai dengan fokus pada kinerja, keselamatan, dan kepatuhan regulasi. Penerbangan percontohan pertama yang dikendalikan pilot direncanakan akhir 2024, menandai pencapaian rekayasa penting yang memvalidasi kelayakan dasar pesawat.
Peluang Pasar dan Implikasi Investor
Morgan Stanley memperkirakan pasar taksi terbang bisa mencapai 1,5 triliun dolar pada 2040, dengan beberapa proyeksi bahkan mencapai 2,9 triliun dolar. Pasar sebesar ini mencerminkan potensi untuk mengubah transportasi perkotaan. Perusahaan seperti Boeing, yang berencana meluncurkan kendaraan terbang di Asia, dan anak perusahaan XPeng, AeroHT, yang menerima ribuan pre-order untuk pesawatnya, menunjukkan bagaimana sektor dirgantara dan otomotif memandang peluang ini.
Sektor saham taksi terbang masih dalam fase komersialisasi, dengan persetujuan regulasi menjadi jalur kritis untuk menghasilkan pendapatan. Perusahaan yang berhasil menavigasi sertifikasi FAA, mengamankan kemitraan modal, dan membangun jalur komersial nyata kemungkinan akan muncul sebagai pemenang kategori ini. Ketiga perusahaan—Joby, Archer, dan Lilium—membawa keunggulan berbeda dalam teknologi, kemitraan, dan posisi pasar saat industri bertransisi dari pengembangan ke penerapan.
Investor yang memantau ruang eVTOL harus mengikuti tonggak utama: persetujuan sertifikasi FAA, peluncuran jalur komersial pertama, dan perkembangan kemitraan dengan perusahaan penerbangan atau otomotif mapan. Kategori saham taksi terbang ini kemungkinan akan memberi imbal hasil kepada investor yang mampu mengidentifikasi pemimpin sebelum adopsi komersial utama meluas.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Tiga Saham Taksi Terbang yang Berpotensi Tumbuh di Era eVTOL
Pasar taksi penerbangan komersial sedang dengan cepat beralih dari konsep ke kenyataan, dengan beberapa perusahaan berlomba untuk menempatkan diri mereka dalam industri yang bisa menjadi bernilai triliunan dolar. Seiring percepatan persetujuan regulasi dan penguatan kemitraan strategis, beberapa kandidat saham taksi terbang semakin mendapatkan momentum di sektor mobilitas udara perkotaan yang sedang berkembang. Berikut tiga perusahaan yang patut dipantau saat ruang eVTOL (electric vertical takeoff and landing) berkembang.
Joby Aviation — Memimpin Perlombaan Taksi Udara dengan Dukungan Strategis
Joby Aviation (NYSE: JOBY) telah memposisikan dirinya sebagai salah satu yang terdepan meskipun volatilitas saham belakangan ini. Perusahaan ini maju pesat melalui tonggak regulasi yang paling penting untuk komersialisasi. Menurut Joby, layanan taksi udara bisa diluncurkan dalam waktu dekat seiring perusahaan melanjutkan proses sertifikasi FAA.
Dukungan dari Toyota dan Delta Air Lines menunjukkan kepercayaan institusional terhadap teknologi Joby. Investasi Toyota sebesar 400 juta dolar dan komitmen Delta sebesar 60 juta dolar menegaskan komitmen dari pemain besar yang memahami logistik penerbangan. Selain itu, Joby mengamankan kontrak sebesar 131 juta dolar untuk pengiriman pesawat ke Pangkalan Udara MacDill, memberikan visibilitas pendapatan sekaligus validasi sistemnya yang setara militer.
Perusahaan ini telah menyelesaikan Tahap 3 dari proses sertifikasi FAA dan kini melakukan pengujian penerbangan kritis yang “dapat dikreditkan”. Kesepakatan definitif dengan Dubai yang memberikan hak operasi eksklusif selama enam tahun di pasar tersebut menandakan adanya daya tarik komersial nyata. Dari segi keuangan, Joby mempertahankan kas dan investasi jangka pendek sebesar 1 miliar dolar pada akhir tahun 2023, menyediakan landasan untuk pengembangan. Hasil kuartalan terbaru juga menunjukkan peningkatan metrik, dengan laba dan pendapatan keduanya melampaui ekspektasi analis.
Archer Aviation — Meningkatkan Produksi eVTOL dengan Kemitraan Stellantis
Archer Aviation (NYSE: ACHR) menghadapi tantangan komersialisasi dari sudut pandang berbeda—melalui kemitraan strategis di bidang otomotif. Perusahaan menargetkan uji coba taksi udara listrik di India pada 2025, mempersiapkan jalur untuk operasi komersial pada 2026. Diversifikasi geografis ini menunjukkan kepercayaan terhadap jalur regulasi di luar negeri dan pendekatan pragmatis dalam memasuki pasar.
Perkembangan penting adalah kemitraan Archer dengan Stellantis, raksasa otomotif global. Stellantis meningkatkan sahamnya sebesar 15,6 juta dolar dan berkomitmen untuk “menyerap sebagian besar pengeluaran modal dan kebutuhan modal kerja untuk memproduksi pesawat kami secara skala besar.” Pengaturan ini mengatasi hambatan utama bagi perusahaan eVTOL—skala produksi yang terjangkau. CEO Archer, Adam Goldstein, menekankan bahwa sedikit perusahaan taksi terbang yang telah mengamankan hubungan serupa dengan produsen mobil besar, memberi Archer keunggulan dalam mengelola arus kas selama fase pertumbuhan.
Perusahaan juga sedang menuju sertifikasi tipe FAA. Archer telah memulai pembangunan pesawat Midnight khusus untuk pengujian penerbangan “dapat dikreditkan” dengan FAA, dengan target sertifikasi tipe pada 2025. Peluncuran layanan komersial di New York City menunjukkan kepercayaan terhadap hasil regulasi jangka pendek dan permintaan pasar nyata untuk layanan taksi udara.
Lilium — Membangun Infrastruktur untuk Mobilitas Udara Eropa
Lilium (NASDAQ: LILM) mengambil pendekatan berfokus pada kemitraan dalam mengembangkan bisnis taksi terbangnya. Dengan harga saham yang jauh lebih rendah dibandingkan pesaing, Lilium baru-baru ini menandatangani nota kesepahaman dengan Lufthansa Group untuk menjajaki operasi pesawat eVTOL di seluruh Eropa. Kemitraan ini menghubungkan teknologi Lilium dengan salah satu operator penerbangan paling mapan di dunia.
Lilium juga bermitra dengan Atlantic Aviation untuk mengembangkan infrastruktur layanan mobilitas udara regional di Amerika Serikat. Investasi infrastruktur ini sangat penting karena operasi taksi terbang membutuhkan fasilitas darat, pusat perawatan, dan koordinasi operasional—tantangan yang melampaui desain pesawat murni.
Tonggak teknis utama adalah dimulainya produksi paket baterai berstandar penerbangan canggih untuk pesawat Lilium Jet. Perusahaan menekankan pengujian ekstensif komponen baterai dengan fokus pada kinerja, keselamatan, dan kepatuhan regulasi. Penerbangan percontohan pertama yang dikendalikan pilot direncanakan akhir 2024, menandai pencapaian rekayasa penting yang memvalidasi kelayakan dasar pesawat.
Peluang Pasar dan Implikasi Investor
Morgan Stanley memperkirakan pasar taksi terbang bisa mencapai 1,5 triliun dolar pada 2040, dengan beberapa proyeksi bahkan mencapai 2,9 triliun dolar. Pasar sebesar ini mencerminkan potensi untuk mengubah transportasi perkotaan. Perusahaan seperti Boeing, yang berencana meluncurkan kendaraan terbang di Asia, dan anak perusahaan XPeng, AeroHT, yang menerima ribuan pre-order untuk pesawatnya, menunjukkan bagaimana sektor dirgantara dan otomotif memandang peluang ini.
Sektor saham taksi terbang masih dalam fase komersialisasi, dengan persetujuan regulasi menjadi jalur kritis untuk menghasilkan pendapatan. Perusahaan yang berhasil menavigasi sertifikasi FAA, mengamankan kemitraan modal, dan membangun jalur komersial nyata kemungkinan akan muncul sebagai pemenang kategori ini. Ketiga perusahaan—Joby, Archer, dan Lilium—membawa keunggulan berbeda dalam teknologi, kemitraan, dan posisi pasar saat industri bertransisi dari pengembangan ke penerapan.
Investor yang memantau ruang eVTOL harus mengikuti tonggak utama: persetujuan sertifikasi FAA, peluncuran jalur komersial pertama, dan perkembangan kemitraan dengan perusahaan penerbangan atau otomotif mapan. Kategori saham taksi terbang ini kemungkinan akan memberi imbal hasil kepada investor yang mampu mengidentifikasi pemimpin sebelum adopsi komersial utama meluas.