Komunitas cryptocurrency sering membahas sejauh mana berbagai mata uang fiat dapat bertahan. Hari ini, mari kita tinjau 50 mata uang terendah di seluruh dunia—negara-negara di mana dolar AS memiliki daya beli yang luar biasa karena depresiasi mata uang yang parah dan krisis ekonomi.
Saat meninjau mata uang terendah dalam peringkat dunia, Venezuela menduduki posisi teratas dengan Bolivar (VES) sekitar 1 USD = 4.000.815 VES. Rial Iran mengikuti dengan dekat di angka 1 USD ≈ 514.000 IRR. Nilai tukar yang astronomis ini mencerminkan puluhan tahun pengelolaan ekonomi yang buruk, hiperinflasi, dan sanksi geopolitik yang telah menghancurkan ekonomi-ekonomi ini.
Devaluasi Mata Uang Ekstrem: Pihak Terlemah
Ketimpangan kekuatan mata uang global menceritakan kisah perjuangan ekonomi. Beberapa negara mengalami nilai tukar yang sangat ekstrem sehingga satu dolar AS dapat membeli jutaan unit mata uang lokal. Selain Venezuela dan Iran, Suriah menjadi contoh lain, dengan Pound Suriah sekitar 1 USD ≈ 15.000 SYP—sebagai konsekuensi langsung dari konflik sipil berkepanjangan dan keruntuhan ekonomi.
Negara lain yang menghadapi depresiasi mata uang yang parah termasuk Irak (1 USD ≈ 1.310 IQD) dan Yaman (1 USD ≈ 250 YER), keduanya mengalami ketidakstabilan politik berkepanjangan dan perang yang menghancurkan fondasi ekonomi.
Asia-Pasifik: Wilayah Mata Uang Terendah
Asia mengandung banyak ekonomi di mana mata uang lokal tetap sangat undervalued terhadap dolar. Rupiah Indonesia diperdagangkan sekitar 1 USD ≈ 14.985 IDR, sementara Dong Vietnam sekitar 1 USD ≈ 24.000 VND. Kip Laos berada di sekitar 1 USD ≈ 17.692 LAK, mencerminkan tahap pembangunan dan tekanan inflasi di negara-negara Asia Tenggara ini.
Asia Selatan juga berjuang dengan mata uang yang lemah: Rupee Pakistan (1 USD ≈ 290 PKR), Rupee Sri Lanka (1 USD ≈ 320 LKR), Taka Bangladesh (1 USD ≈ 110 BDT), dan Rupee Nepal (1 USD ≈ 132 NPR) semuanya menunjukkan tantangan mata uang regional yang terkait dengan kebutuhan investasi infrastruktur dan beban utang eksternal.
Ekonomi Afrika: Krisis Mata Uang dalam Perspektif
Afrika menjadi rumah bagi sebagian besar mata uang terendah di dunia. Leone Sierra Leone (1 USD ≈ 17.665 SLL), Franc Guinea (1 USD ≈ 8.650 GNF), Shilling Uganda (1 USD ≈ 3.806 UGX), Shilling Tanzania (1 USD ≈ 2.498 TZS), dan Naira Nigeria (1 USD ≈ 775 NGN) mencerminkan perjuangan berkelanjutan benua ini dengan ketergantungan komoditas, defisit infrastruktur, dan tantangan pengelolaan fiskal.
Ariary Madagascar (1 USD ≈ 4.400 MGA), Kwacha Zambia (1 USD ≈ 20.5 ZMW), Kwacha Malawi (1 USD ≈ 1.250 MWK), Metical Mozambique (1 USD ≈ 63 MZN), Cedi Ghana (1 USD ≈ 12 GHS), Birr Ethiopia (1 USD ≈ 55 ETB), Shilling Kenya (1 USD ≈ 148 KES), dan Shilling Somalia (1 USD ≈ 550 SOS) menunjukkan kelemahan mata uang yang meluas di benua ini terkait tantangan pembangunan.
Amerika Latin & Karibia: Pola Depresiasi Regional
Amerika menampilkan beberapa ekonomi dengan mata uang yang sangat melemah. Guaraní Paraguay (1 USD ≈ 7.241 PYG), Peso Kolombia (1 USD ≈ 3.915 COP), Dolar Suriname (1 USD ≈ 37 SRD), Gourde Haiti (1 USD ≈ 131 HTG), dan Córdoba Nikaragua (1 USD ≈ 36.5 NIO) semuanya menunjukkan tekanan ekonomi regional termasuk ketergantungan remitansi, volatilitas harga komoditas, dan ketidakpastian politik.
Timur Tengah & Asia Tengah: Kelemahan Bergantung Minyak
Negara-negara di wilayah ini menunjukkan kekuatan mata uang yang beragam. Pound Lebanon menghadapi tekanan luar biasa di sekitar 1 USD ≈ 15.012 LBP karena keruntuhan sektor perbankan dan krisis politik. Negara-negara Asia Tengah seperti Uzbekistan dengan Som (1 USD ≈ 11.420 UZS), Tajikistan dengan Somoni (1 USD ≈ 11 TJS), Kyrgyzstan dengan Som (1 USD ≈ 89 KGS), Kazakhstan dengan Tenge (1 USD ≈ 470 KZT), dan Turkmenistan dengan Manat (1 USD ≈ 3.5 TMT) mencerminkan transisi ekonomi pas-Soviet dan ketergantungan pada ekspor energi.
Mengapa Mata Uang Mencapai Level Terendah di Dunia
Devaluasi mata uang berasal dari berbagai faktor yang saling terkait. Hipertinflasi—di mana uang kehilangan daya beli dengan cepat—menjadi faktor utama, terutama mempengaruhi Venezuela dan Zimbabwe (secara historis). Ketidakstabilan politik dan konflik bersenjata merusak kepercayaan investor, seperti yang terlihat di Suriah, Yaman, Irak, dan Somalia. Beban utang eksternal, keruntuhan harga komoditas, pengelolaan cadangan bank sentral yang buruk, dan sanksi internasional semuanya berkontribusi pada kelemahan mata uang yang parah.
Negara dengan nilai mata uang terendah biasanya memiliki karakteristik: ketergantungan besar pada ekspor komoditas, diversifikasi ekonomi yang terbatas, ketidakstabilan politik, utang pemerintah yang tinggi, dan aliran modal keluar saat warga dan bisnis memindahkan aset ke luar negeri.
Kesimpulan: Memahami Ketimpangan Mata Uang Global
Saat menganalisis mata uang terendah di dunia, mengenali dasar ekonomi di balik setiap negara sangat penting. Sementara penggemar cryptocurrency memperdebatkan kekuatan mata uang fiat, nilai tukar ini mencerminkan konsekuensi nyata manusia—pengurangan daya beli warga biasa, kesulitan membiayai impor, dan pertumbuhan ekonomi yang terbatas.
50 negara yang tercantum menunjukkan bahwa devaluasi mata uang jarang terjadi secara terisolasi; sebaliknya, hal ini mencerminkan tantangan struktural ekonomi yang lebih dalam yang membutuhkan reformasi kebijakan menyeluruh dan kerja sama internasional untuk mengatasinya.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Peringkat Mata Uang Global: Di Mana Mata Uang Terendah di Dunia Ditemukan
Komunitas cryptocurrency sering membahas sejauh mana berbagai mata uang fiat dapat bertahan. Hari ini, mari kita tinjau 50 mata uang terendah di seluruh dunia—negara-negara di mana dolar AS memiliki daya beli yang luar biasa karena depresiasi mata uang yang parah dan krisis ekonomi.
Saat meninjau mata uang terendah dalam peringkat dunia, Venezuela menduduki posisi teratas dengan Bolivar (VES) sekitar 1 USD = 4.000.815 VES. Rial Iran mengikuti dengan dekat di angka 1 USD ≈ 514.000 IRR. Nilai tukar yang astronomis ini mencerminkan puluhan tahun pengelolaan ekonomi yang buruk, hiperinflasi, dan sanksi geopolitik yang telah menghancurkan ekonomi-ekonomi ini.
Devaluasi Mata Uang Ekstrem: Pihak Terlemah
Ketimpangan kekuatan mata uang global menceritakan kisah perjuangan ekonomi. Beberapa negara mengalami nilai tukar yang sangat ekstrem sehingga satu dolar AS dapat membeli jutaan unit mata uang lokal. Selain Venezuela dan Iran, Suriah menjadi contoh lain, dengan Pound Suriah sekitar 1 USD ≈ 15.000 SYP—sebagai konsekuensi langsung dari konflik sipil berkepanjangan dan keruntuhan ekonomi.
Negara lain yang menghadapi depresiasi mata uang yang parah termasuk Irak (1 USD ≈ 1.310 IQD) dan Yaman (1 USD ≈ 250 YER), keduanya mengalami ketidakstabilan politik berkepanjangan dan perang yang menghancurkan fondasi ekonomi.
Asia-Pasifik: Wilayah Mata Uang Terendah
Asia mengandung banyak ekonomi di mana mata uang lokal tetap sangat undervalued terhadap dolar. Rupiah Indonesia diperdagangkan sekitar 1 USD ≈ 14.985 IDR, sementara Dong Vietnam sekitar 1 USD ≈ 24.000 VND. Kip Laos berada di sekitar 1 USD ≈ 17.692 LAK, mencerminkan tahap pembangunan dan tekanan inflasi di negara-negara Asia Tenggara ini.
Asia Selatan juga berjuang dengan mata uang yang lemah: Rupee Pakistan (1 USD ≈ 290 PKR), Rupee Sri Lanka (1 USD ≈ 320 LKR), Taka Bangladesh (1 USD ≈ 110 BDT), dan Rupee Nepal (1 USD ≈ 132 NPR) semuanya menunjukkan tantangan mata uang regional yang terkait dengan kebutuhan investasi infrastruktur dan beban utang eksternal.
Ekonomi Afrika: Krisis Mata Uang dalam Perspektif
Afrika menjadi rumah bagi sebagian besar mata uang terendah di dunia. Leone Sierra Leone (1 USD ≈ 17.665 SLL), Franc Guinea (1 USD ≈ 8.650 GNF), Shilling Uganda (1 USD ≈ 3.806 UGX), Shilling Tanzania (1 USD ≈ 2.498 TZS), dan Naira Nigeria (1 USD ≈ 775 NGN) mencerminkan perjuangan berkelanjutan benua ini dengan ketergantungan komoditas, defisit infrastruktur, dan tantangan pengelolaan fiskal.
Ariary Madagascar (1 USD ≈ 4.400 MGA), Kwacha Zambia (1 USD ≈ 20.5 ZMW), Kwacha Malawi (1 USD ≈ 1.250 MWK), Metical Mozambique (1 USD ≈ 63 MZN), Cedi Ghana (1 USD ≈ 12 GHS), Birr Ethiopia (1 USD ≈ 55 ETB), Shilling Kenya (1 USD ≈ 148 KES), dan Shilling Somalia (1 USD ≈ 550 SOS) menunjukkan kelemahan mata uang yang meluas di benua ini terkait tantangan pembangunan.
Amerika Latin & Karibia: Pola Depresiasi Regional
Amerika menampilkan beberapa ekonomi dengan mata uang yang sangat melemah. Guaraní Paraguay (1 USD ≈ 7.241 PYG), Peso Kolombia (1 USD ≈ 3.915 COP), Dolar Suriname (1 USD ≈ 37 SRD), Gourde Haiti (1 USD ≈ 131 HTG), dan Córdoba Nikaragua (1 USD ≈ 36.5 NIO) semuanya menunjukkan tekanan ekonomi regional termasuk ketergantungan remitansi, volatilitas harga komoditas, dan ketidakpastian politik.
Timur Tengah & Asia Tengah: Kelemahan Bergantung Minyak
Negara-negara di wilayah ini menunjukkan kekuatan mata uang yang beragam. Pound Lebanon menghadapi tekanan luar biasa di sekitar 1 USD ≈ 15.012 LBP karena keruntuhan sektor perbankan dan krisis politik. Negara-negara Asia Tengah seperti Uzbekistan dengan Som (1 USD ≈ 11.420 UZS), Tajikistan dengan Somoni (1 USD ≈ 11 TJS), Kyrgyzstan dengan Som (1 USD ≈ 89 KGS), Kazakhstan dengan Tenge (1 USD ≈ 470 KZT), dan Turkmenistan dengan Manat (1 USD ≈ 3.5 TMT) mencerminkan transisi ekonomi pas-Soviet dan ketergantungan pada ekspor energi.
Mengapa Mata Uang Mencapai Level Terendah di Dunia
Devaluasi mata uang berasal dari berbagai faktor yang saling terkait. Hipertinflasi—di mana uang kehilangan daya beli dengan cepat—menjadi faktor utama, terutama mempengaruhi Venezuela dan Zimbabwe (secara historis). Ketidakstabilan politik dan konflik bersenjata merusak kepercayaan investor, seperti yang terlihat di Suriah, Yaman, Irak, dan Somalia. Beban utang eksternal, keruntuhan harga komoditas, pengelolaan cadangan bank sentral yang buruk, dan sanksi internasional semuanya berkontribusi pada kelemahan mata uang yang parah.
Negara dengan nilai mata uang terendah biasanya memiliki karakteristik: ketergantungan besar pada ekspor komoditas, diversifikasi ekonomi yang terbatas, ketidakstabilan politik, utang pemerintah yang tinggi, dan aliran modal keluar saat warga dan bisnis memindahkan aset ke luar negeri.
Kesimpulan: Memahami Ketimpangan Mata Uang Global
Saat menganalisis mata uang terendah di dunia, mengenali dasar ekonomi di balik setiap negara sangat penting. Sementara penggemar cryptocurrency memperdebatkan kekuatan mata uang fiat, nilai tukar ini mencerminkan konsekuensi nyata manusia—pengurangan daya beli warga biasa, kesulitan membiayai impor, dan pertumbuhan ekonomi yang terbatas.
50 negara yang tercantum menunjukkan bahwa devaluasi mata uang jarang terjadi secara terisolasi; sebaliknya, hal ini mencerminkan tantangan struktural ekonomi yang lebih dalam yang membutuhkan reformasi kebijakan menyeluruh dan kerja sama internasional untuk mengatasinya.