Kebijakan moneter Jepang yang berubah secara tak terduga telah menyebabkan volatilitas ekstrem di pasar obligasi Jepang yang menyebar dengan cepat ke pasar keuangan global dan pasar cryptocurrency. Menurut laporan CoinDesk, perubahan kebijakan uang Jepang sedang memicu reaksi berantai yang tidak terduga. Para ahli strategi produk di Saxo Bank juga memperingatkan bahwa situasi ini tidak hanya masalah regional, melainkan berkembang menjadi krisis stabilitas keuangan global.
Lonjakan hasil obligasi, rekor tertinggi dalam 27 tahun
Hasil obligasi Jepang jangka 30 tahun melonjak lebih dari 30bp menjadi mencapai 3,91%. Ini adalah angka tertinggi dalam 27 tahun terakhir, memberikan dampak langsung ke pasar. Para ahli menganalisis bahwa lonjakan ini secara fundamental mengancam posisi lama Jepang—penyedia likuiditas paling stabil di dunia. Perubahan ini menandai reorientasi aliran modal global dan menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan investor.
Kekeringan likuiditas global dan peningkatan penjualan aset berisiko
Pengurangan dukungan likuiditas Jepang semakin meningkatkan ketegangan di pasar keuangan dunia. Variabel eksternal seperti ancaman tarif dari Presiden Trump semakin memperburuk sentimen penghindaran risiko global. Akibatnya, harga Bitcoin turun ke level $89.11K, sementara emas dan perak mencapai rekor tertinggi. Ini adalah fenomena klasik penghindaran aset berisiko, menunjukkan bahwa investor secara besar-besaran beralih ke aset aman.
Dilema ganda kebijakan Bank of Japan
Para analis menunjukkan bahwa Bank of Japan, yang bertanggung jawab atas kebijakan moneter Jepang, saat ini menghadapi pilihan yang sangat terbatas. Jika mencoba menahan hasil obligasi, bisa menyebabkan hilangnya kepercayaan pasar. Sebaliknya, beralih ke kebijakan moneter ketat dapat memperburuk krisis likuiditas global. Apapun kebijakan yang diambil, pasti akan menimbulkan efek samping.
Kekhawatiran keruntuhan sistem keuangan meningkat
Di antara pelaku pasar, kekhawatiran semakin besar bahwa tren kenaikan hasil ini dapat berkembang menjadi krisis struktural di sistem keuangan global. Perubahan mendadak dalam kebijakan moneter Jepang, meskipun sementara, dapat menjadi sinyal yang mengguncang fondasi stabilitas sistem keuangan internasional. Oleh karena itu, kewaspadaan pasar meningkat. Keputusan arah kebijakan Bank of Japan di masa depan diperkirakan akan memiliki pengaruh besar terhadap pasar cryptocurrency dan aset tradisional global.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Kebijakan mata uang Jepang yang ketat mengguncang pasar cryptocurrency global
Kebijakan moneter Jepang yang berubah secara tak terduga telah menyebabkan volatilitas ekstrem di pasar obligasi Jepang yang menyebar dengan cepat ke pasar keuangan global dan pasar cryptocurrency. Menurut laporan CoinDesk, perubahan kebijakan uang Jepang sedang memicu reaksi berantai yang tidak terduga. Para ahli strategi produk di Saxo Bank juga memperingatkan bahwa situasi ini tidak hanya masalah regional, melainkan berkembang menjadi krisis stabilitas keuangan global.
Lonjakan hasil obligasi, rekor tertinggi dalam 27 tahun
Hasil obligasi Jepang jangka 30 tahun melonjak lebih dari 30bp menjadi mencapai 3,91%. Ini adalah angka tertinggi dalam 27 tahun terakhir, memberikan dampak langsung ke pasar. Para ahli menganalisis bahwa lonjakan ini secara fundamental mengancam posisi lama Jepang—penyedia likuiditas paling stabil di dunia. Perubahan ini menandai reorientasi aliran modal global dan menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan investor.
Kekeringan likuiditas global dan peningkatan penjualan aset berisiko
Pengurangan dukungan likuiditas Jepang semakin meningkatkan ketegangan di pasar keuangan dunia. Variabel eksternal seperti ancaman tarif dari Presiden Trump semakin memperburuk sentimen penghindaran risiko global. Akibatnya, harga Bitcoin turun ke level $89.11K, sementara emas dan perak mencapai rekor tertinggi. Ini adalah fenomena klasik penghindaran aset berisiko, menunjukkan bahwa investor secara besar-besaran beralih ke aset aman.
Dilema ganda kebijakan Bank of Japan
Para analis menunjukkan bahwa Bank of Japan, yang bertanggung jawab atas kebijakan moneter Jepang, saat ini menghadapi pilihan yang sangat terbatas. Jika mencoba menahan hasil obligasi, bisa menyebabkan hilangnya kepercayaan pasar. Sebaliknya, beralih ke kebijakan moneter ketat dapat memperburuk krisis likuiditas global. Apapun kebijakan yang diambil, pasti akan menimbulkan efek samping.
Kekhawatiran keruntuhan sistem keuangan meningkat
Di antara pelaku pasar, kekhawatiran semakin besar bahwa tren kenaikan hasil ini dapat berkembang menjadi krisis struktural di sistem keuangan global. Perubahan mendadak dalam kebijakan moneter Jepang, meskipun sementara, dapat menjadi sinyal yang mengguncang fondasi stabilitas sistem keuangan internasional. Oleh karena itu, kewaspadaan pasar meningkat. Keputusan arah kebijakan Bank of Japan di masa depan diperkirakan akan memiliki pengaruh besar terhadap pasar cryptocurrency dan aset tradisional global.