Rekor baru di pasar saham AS sulit menyelamatkan opini publik: tingkat dukungan Trump turun ke titik terendah selama masa jabatannya, basis Partai Republik mulai goyah
Meskipun pasar saham AS terus mencapai rekor tertinggi di tahun pertama masa jabatan kedua Trump, kemakmuran ekonomi ini belum berubah menjadi modal politik. Survei terbaru menunjukkan tingkat dukungan yang mencapai titik terendah, dan yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya pergeseran yang jelas di dalam Partai Republik, yang berpotensi berdampak mendalam pada stabilitas kebijakan dan ekspektasi pasar.
Mengapa Kemakmuran Ekonomi Tidak Mampu Menyelamatkan Dukungan Politik
Data Opini Masyarakat Menyentuh Titik Terendah
Berdasarkan laporan terbaru, survei gabungan dari The Economist dan YouGov menunjukkan bahwa tingkat dukungan terhadap Trump saat ini hanya 37%, sedangkan yang menentang mencapai 57%, dengan selisih dukungan bersih -20%, yang merupakan rekor terendah di masa jabatan kedua. Lebih menarik lagi adalah adanya pelonggaran di basis pendukung partai, di mana tingkat dukungan dalam Partai Republik menurun dari 88% menjadi 79% dalam satu minggu, penurunan 9 poin persentase ini menunjukkan bahwa kelompok pemilih inti juga mulai goyah.
Fenomena ketidaksesuaian ini tidak jarang terjadi dalam ekonomi politik, tetapi skala besar yang ditunjukkan sangat mencolok. Indikator ekonomi yang membaik biasanya akan mendukung survei popularitas pemerintah, tetapi ketika distribusi manfaat pertumbuhan ekonomi tidak merata, atau kebijakan yang diambil menimbulkan kontroversi, transformasi ini bisa gagal.
Kebijakan Tarif Menjadi Pembunuh Opini Masyarakat
Survei menunjukkan bahwa 69% responden merasa tarif secara langsung meningkatkan pengeluaran mereka. Ini adalah tingkat konsensus yang sangat tinggi, menunjukkan bahwa dampak negatif dari kebijakan tarif sudah meresap ke kehidupan sehari-hari.
Tarif mendorong inflasi dan biaya hidup yang tinggi, menjadi alasan utama mayoritas pemilih menyalurkan ketidakpuasan mereka. Ada paradoks kebijakan di sini: kebijakan tarif secara ekonomi memang kontroversial, tetapi secara persepsi masyarakat langsung dan jelas—barang menjadi lebih mahal. Pengalaman negatif yang langsung ini cukup untuk mengimbangi efek kekayaan dari rekor tertinggi pasar saham, terutama bagi kelompok berpenghasilan menengah ke bawah yang tidak memiliki saham atau memiliki porsi saham yang rendah.
Krisis Kepercayaan terhadap Kebijakan Moneter
Yang lebih menarik adalah distribusi kepercayaan publik terhadap pembuat kebijakan moneter. 44% pemilih percaya bahwa Ketua Federal Reserve Powell yang menentukan kebijakan suku bunga, sementara hanya 18% yang percaya bahwa Trump memiliki penilaian yang tepat dalam hal ini, mencerminkan keraguan umum terhadap intervensi Gedung Putih dalam kebijakan moneter.
Data perbandingan ini mengindikasikan risiko politik: pasar dan publik khawatir terhadap stabilitas dan profesionalisme kebijakan. Federal Reserve yang independen dipandang lebih dapat dipercaya, sementara intervensi kebijakan dari Gedung Putih dianggap berpotensi menimbulkan ketidakpastian.
Tekanan Ganda dari Geopolitik
Selain kebijakan ekonomi, geopolitik juga turut menekan opini masyarakat. Baik pernyataan tentang “pembelian atau pengambilalihan militer atas Greenland” maupun pertimbangan tindakan militer terhadap Venezuela, semuanya ditentang oleh mayoritas pemilih. Isyarat kebijakan luar negeri yang tidak pasti ini semakin memperburuk kecemasan pasar dan publik.
Dampak Potensial terhadap Pasar
Dari sudut pandang pasar cryptocurrency, data survei ini mencerminkan ketidakpastian kebijakan yang berpotensi mempengaruhi beberapa aspek. Pertama, pelonggaran di basis pendukung politik dapat menyebabkan perubahan arah kebijakan, termasuk regulasi aset digital. Kedua, adanya suara-suara berbeda terkait kebijakan moneter dan fiskal akan meningkatkan ekspektasi volatilitas pasar. Ketiga, ketidakpastian geopolitik biasanya akan mendorong volatilitas aset berisiko.
Kesimpulan
Perbedaan antara rekor tertinggi pasar saham AS dan penurunan dukungan masyarakat secara fundamental mencerminkan ketidakmerataan distribusi hasil pertumbuhan ekonomi. Dampak negatif langsung dari kebijakan tarif, kekhawatiran terhadap intervensi kebijakan moneter, serta ketidakpastian geopolitik secara bersama-sama menekan tingkat dukungan politik Trump. Lebih mengkhawatirkan lagi adalah penurunan dukungan di dalam Partai Republik, yang menunjukkan basis pendukung utama juga mulai goyah. Bagi pasar, ini berarti stabilitas kebijakan menghadapi lebih banyak ketidakpastian, dan preferensi risiko mungkin akan semakin tertekan.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Rekor baru di pasar saham AS sulit menyelamatkan opini publik: tingkat dukungan Trump turun ke titik terendah selama masa jabatannya, basis Partai Republik mulai goyah
Meskipun pasar saham AS terus mencapai rekor tertinggi di tahun pertama masa jabatan kedua Trump, kemakmuran ekonomi ini belum berubah menjadi modal politik. Survei terbaru menunjukkan tingkat dukungan yang mencapai titik terendah, dan yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya pergeseran yang jelas di dalam Partai Republik, yang berpotensi berdampak mendalam pada stabilitas kebijakan dan ekspektasi pasar.
Mengapa Kemakmuran Ekonomi Tidak Mampu Menyelamatkan Dukungan Politik
Data Opini Masyarakat Menyentuh Titik Terendah
Berdasarkan laporan terbaru, survei gabungan dari The Economist dan YouGov menunjukkan bahwa tingkat dukungan terhadap Trump saat ini hanya 37%, sedangkan yang menentang mencapai 57%, dengan selisih dukungan bersih -20%, yang merupakan rekor terendah di masa jabatan kedua. Lebih menarik lagi adalah adanya pelonggaran di basis pendukung partai, di mana tingkat dukungan dalam Partai Republik menurun dari 88% menjadi 79% dalam satu minggu, penurunan 9 poin persentase ini menunjukkan bahwa kelompok pemilih inti juga mulai goyah.
Fenomena ketidaksesuaian ini tidak jarang terjadi dalam ekonomi politik, tetapi skala besar yang ditunjukkan sangat mencolok. Indikator ekonomi yang membaik biasanya akan mendukung survei popularitas pemerintah, tetapi ketika distribusi manfaat pertumbuhan ekonomi tidak merata, atau kebijakan yang diambil menimbulkan kontroversi, transformasi ini bisa gagal.
Kebijakan Tarif Menjadi Pembunuh Opini Masyarakat
Survei menunjukkan bahwa 69% responden merasa tarif secara langsung meningkatkan pengeluaran mereka. Ini adalah tingkat konsensus yang sangat tinggi, menunjukkan bahwa dampak negatif dari kebijakan tarif sudah meresap ke kehidupan sehari-hari.
Tarif mendorong inflasi dan biaya hidup yang tinggi, menjadi alasan utama mayoritas pemilih menyalurkan ketidakpuasan mereka. Ada paradoks kebijakan di sini: kebijakan tarif secara ekonomi memang kontroversial, tetapi secara persepsi masyarakat langsung dan jelas—barang menjadi lebih mahal. Pengalaman negatif yang langsung ini cukup untuk mengimbangi efek kekayaan dari rekor tertinggi pasar saham, terutama bagi kelompok berpenghasilan menengah ke bawah yang tidak memiliki saham atau memiliki porsi saham yang rendah.
Krisis Kepercayaan terhadap Kebijakan Moneter
Yang lebih menarik adalah distribusi kepercayaan publik terhadap pembuat kebijakan moneter. 44% pemilih percaya bahwa Ketua Federal Reserve Powell yang menentukan kebijakan suku bunga, sementara hanya 18% yang percaya bahwa Trump memiliki penilaian yang tepat dalam hal ini, mencerminkan keraguan umum terhadap intervensi Gedung Putih dalam kebijakan moneter.
Data perbandingan ini mengindikasikan risiko politik: pasar dan publik khawatir terhadap stabilitas dan profesionalisme kebijakan. Federal Reserve yang independen dipandang lebih dapat dipercaya, sementara intervensi kebijakan dari Gedung Putih dianggap berpotensi menimbulkan ketidakpastian.
Tekanan Ganda dari Geopolitik
Selain kebijakan ekonomi, geopolitik juga turut menekan opini masyarakat. Baik pernyataan tentang “pembelian atau pengambilalihan militer atas Greenland” maupun pertimbangan tindakan militer terhadap Venezuela, semuanya ditentang oleh mayoritas pemilih. Isyarat kebijakan luar negeri yang tidak pasti ini semakin memperburuk kecemasan pasar dan publik.
Dampak Potensial terhadap Pasar
Dari sudut pandang pasar cryptocurrency, data survei ini mencerminkan ketidakpastian kebijakan yang berpotensi mempengaruhi beberapa aspek. Pertama, pelonggaran di basis pendukung politik dapat menyebabkan perubahan arah kebijakan, termasuk regulasi aset digital. Kedua, adanya suara-suara berbeda terkait kebijakan moneter dan fiskal akan meningkatkan ekspektasi volatilitas pasar. Ketiga, ketidakpastian geopolitik biasanya akan mendorong volatilitas aset berisiko.
Kesimpulan
Perbedaan antara rekor tertinggi pasar saham AS dan penurunan dukungan masyarakat secara fundamental mencerminkan ketidakmerataan distribusi hasil pertumbuhan ekonomi. Dampak negatif langsung dari kebijakan tarif, kekhawatiran terhadap intervensi kebijakan moneter, serta ketidakpastian geopolitik secara bersama-sama menekan tingkat dukungan politik Trump. Lebih mengkhawatirkan lagi adalah penurunan dukungan di dalam Partai Republik, yang menunjukkan basis pendukung utama juga mulai goyah. Bagi pasar, ini berarti stabilitas kebijakan menghadapi lebih banyak ketidakpastian, dan preferensi risiko mungkin akan semakin tertekan.