Ketika tatanan keuangan global berguncang secara besar-besaran, minat terhadap emas meningkat secara cepat. Dalam laporan analisis pasar emas terbaru yang diterbitkan oleh Incrementum berjudul “In Gold We Trust”, disajikan skenario menarik mengenai perkiraan harga emas hingga akhir tahun 2030. Dulu, emas dianggap sebagai aset usang, tetapi dalam lingkungan ekonomi jangka panjang saat ini, emas kembali mendapatkan sorotan sebagai objek investasi strategis.
Alasan Mengapa Perkiraan Harga Emas Hingga 2030 Menunjukkan Sentimen Bullish
Menurut analisis Incrementum, saat ini pasar emas berada di tahap kedua dari teori Dow tentang pasar bullish, yaitu “Tahap Partisipasi Investor Umum”. Pada tahap ini, liputan media menjadi lebih positif, minat spekulatif meningkat, dan produk keuangan baru diluncurkan secara berurutan.
Dalam lima tahun terakhir, harga emas naik sebesar 92%, sementara daya beli riil dolar AS menurun sebesar 50%. Data penting yang menjadi dasar perkiraan harga emas menunjukkan bahwa tahun lalu, harga mencapai puncaknya sebanyak 43 kali dalam sebulan, dan hingga akhir April tahun ini, telah mencapai 22 kali pembaruan. Ini bukan sekadar kenaikan harga, tetapi menunjukkan pergeseran kepercayaan secara struktural.
Pandangan konvensional menganggap bahwa harga emas sudah terlalu tinggi. Namun, dari sudut pandang jangka panjang, model perkiraan harga emas menunjukkan kesimpulan yang berbeda. Prediksi model Incrementum tahun 2020 menunjukkan bahwa, sebagai skenario dasar, harga emas bisa mencapai sekitar 4.800 dolar AS pada akhir 2030, dan dalam skenario inflasi, bisa mencapai sekitar 8.900 dolar AS. Karena harga saat ini sudah melebihi target menengah akhir 2025, prospek ekonomi selama lima tahun ke depan akan sangat menentukan apakah skenario bullish ini akan terwujud.
Tekanan Jangka Panjang dari Bank Sentral dan Penawaran Uang
Alasan paling solid yang mendukung perkiraan harga emas adalah tindakan bank sentral. Sejak 2009, bank sentral secara konsisten membeli emas, dan tren ini mempercepat setelah pembekuan cadangan devisa Rusia pada Februari 2022. Yang mengejutkan, dalam tiga tahun terakhir, bank sentral menambah cadangan emas lebih dari 1.000 ton setiap tahun, mencapai “hat-trick” secara simbolis.
Menurut statistik World Gold Council, cadangan emas resmi dunia mencapai sekitar 36.252 ton per Februari 2025, dan proporsinya terhadap total cadangan devisa mencapai 22%. Ini adalah level tertinggi sejak 1997, hampir dua kali lipat dari 9% pada 2016. Analisis Goldman Sachs memperkirakan bahwa China akan membeli emas sekitar 40 ton per bulan di masa depan, yang setara dengan permintaan hampir 500 ton per tahun.
Dari sisi penawaran uang, tekanan kenaikan jangka panjang juga jelas terlihat. Melihat sejarah 125 tahun terakhir di AS, populasi meningkat 4,5 kali lipat, sementara penawaran uang M2 membengkak sebesar 2.333 kali lipat. Di negara G20, penawaran uang meningkat rata-rata 7,4% per tahun, dan setelah periode pertumbuhan negatif, kembali memasuki fase ekspansi. Tren peningkatan penawaran uang ini secara struktural akan mendorong harga emas dalam jangka panjang.
Strategi Portofolio Baru Berdasarkan Perkiraan Harga Emas
Dalam situasi ketidakpastian yang meliputi ketidakstabilan dominasi dolar, defisit fiskal negara-negara, dan ketegangan geopolitik, portofolio konvensional 60% saham dan 40% obligasi mulai tidak efektif. Portofolio baru yang diusulkan oleh Incrementum mencerminkan kondisi ekonomi modern.
Alokasi aset baru ini meliputi: 45% saham, 15% obligasi, 15% emas (aset aman), 10% logam perak dan saham pertambangan (performance gold), 10% komoditas, dan 5% Bitcoin. Komposisi ini dirancang untuk menanggapi skenario kenaikan harga emas sekaligus menjaga stabilitas portofolio secara keseluruhan.
Yang perlu diperhatikan adalah konsep “performance gold”. Logam perak dan saham pertambangan secara historis cenderung mengikuti kenaikan emas. Melihat kembali pasar emas di era 1970-an dan 2000-an, aset pendukung ini memberikan imbal hasil yang melebihi emas. Dalam kondisi stagflasi, rata-rata pertumbuhan tahunan riil emas adalah 7,7%, sedangkan perak 28,6%, dan saham pertambangan 3,4%.
Peran Jangka Panjang Emas dan Bitcoin
Bagaimana menempatkan aset kripto dalam kerangka perkiraan harga emas adalah isu penting dalam strategi investasi modern. Bitcoin dianggap memiliki hubungan pelengkap dengan emas. Dalam ketegangan geopolitik yang meningkat, independensi Bitcoin sebagai mata uang terdesentralisasi dan kemampuannya melakukan transaksi lintas batas menawarkan alternatif yang kuat terhadap mata uang konvensional.
Saat ini, kapitalisasi pasar Bitcoin sekitar 1,9 triliun dolar (sekitar 94.200 dolar per BTC), yang setara dengan sekitar 8% dari kapitalisasi pasar emas sekitar 23 triliun dolar. Laporan Incrementum menunjukkan bahwa Bitcoin berpotensi mencapai 50% dari kapitalisasi pasar emas pada akhir 2030, yang setara dengan sekitar 900.000 dolar per BTC.
Kenaikan jangka panjang emas dan pertumbuhan Bitcoin saling memperkuat. Dengan moto “kompetisi merangsang bisnis”, kombinasi kedua aset ini berpotensi memberikan kinerja yang lebih baik daripada investasi tunggal, setelah disesuaikan risiko.
Manajemen Risiko Jangka Panjang dan Penyesuaian Jangka Pendek
Meskipun peluang skenario bullish harga emas cukup tinggi, tantangan jangka pendek tetap ada. Tren kenaikan jangka panjang tetap terjaga, tetapi faktor risiko berikut dapat menyebabkan koreksi jangka pendek:
Permintaan bank sentral yang saat ini rata-rata 250 ton per kuartal bisa menurun secara tak terduga, mengganggu fondasi permintaan struktural. Selain itu, pengurangan posisi spekulan, rebound dolar, dan penurunan premi geopolitik juga dapat menjadi faktor koreksi. Secara teknis, harga emas bisa turun ke sekitar 2.800 dolar dalam waktu singkat.
Namun, proses koreksi ini tidak mengancam tren kenaikan jangka panjang emas, melainkan dapat dianggap sebagai fase stabilisasi pasar bullish. Penting bagi investor untuk menjaga pandangan jangka panjang dan membangun strategi manajemen risiko yang konsisten untuk menanggapi fluktuasi pasar.
Titik Balik dalam Tatanan Keuangan dan Pemulihan Emas
Laporan Incrementum memandang saat ini bukan sekadar fase kenaikan harga, melainkan sebagai titik balik tatanan keuangan. Tren yang menunjukkan penggerusan industri AS, defisit fiskal yang tak terkendali, munculnya aset non-negara seperti Bitcoin, dan akumulasi besar-besaran emas oleh bank sentral menunjukkan bahwa dunia sedang mengalami reorientasi keuangan baru.
Secara jangka panjang, emas berpotensi bertransformasi dari “penstabil portofolio” menjadi “aset pembayaran super-nasional”. Dalam kondisi sistem keuangan yang kehilangan kepercayaan, emas akan berfungsi bukan sebagai alat kekuasaan politik, melainkan sebagai aset netral dan tanpa utang yang menjadi dasar perdagangan dan kepercayaan.
Dengan mempertimbangkan skenario bullish harga emas dan kondisi pasar saat ini secara komprehensif, pentingnya emas dalam strategi investasi jangka panjang semakin meningkat. Investor yang sudah memegang emas disarankan untuk mempertahankan kepemilikan, sementara mereka yang mempertimbangkan masuk ke pasar saat ini tetap memiliki peluang menarik untuk berpartisipasi.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Perkiraan Harga Emas dari Sudut Pandang Investasi Jangka Panjang dan Skenario Tahun 2030
Ketika tatanan keuangan global berguncang secara besar-besaran, minat terhadap emas meningkat secara cepat. Dalam laporan analisis pasar emas terbaru yang diterbitkan oleh Incrementum berjudul “In Gold We Trust”, disajikan skenario menarik mengenai perkiraan harga emas hingga akhir tahun 2030. Dulu, emas dianggap sebagai aset usang, tetapi dalam lingkungan ekonomi jangka panjang saat ini, emas kembali mendapatkan sorotan sebagai objek investasi strategis.
Alasan Mengapa Perkiraan Harga Emas Hingga 2030 Menunjukkan Sentimen Bullish
Menurut analisis Incrementum, saat ini pasar emas berada di tahap kedua dari teori Dow tentang pasar bullish, yaitu “Tahap Partisipasi Investor Umum”. Pada tahap ini, liputan media menjadi lebih positif, minat spekulatif meningkat, dan produk keuangan baru diluncurkan secara berurutan.
Dalam lima tahun terakhir, harga emas naik sebesar 92%, sementara daya beli riil dolar AS menurun sebesar 50%. Data penting yang menjadi dasar perkiraan harga emas menunjukkan bahwa tahun lalu, harga mencapai puncaknya sebanyak 43 kali dalam sebulan, dan hingga akhir April tahun ini, telah mencapai 22 kali pembaruan. Ini bukan sekadar kenaikan harga, tetapi menunjukkan pergeseran kepercayaan secara struktural.
Pandangan konvensional menganggap bahwa harga emas sudah terlalu tinggi. Namun, dari sudut pandang jangka panjang, model perkiraan harga emas menunjukkan kesimpulan yang berbeda. Prediksi model Incrementum tahun 2020 menunjukkan bahwa, sebagai skenario dasar, harga emas bisa mencapai sekitar 4.800 dolar AS pada akhir 2030, dan dalam skenario inflasi, bisa mencapai sekitar 8.900 dolar AS. Karena harga saat ini sudah melebihi target menengah akhir 2025, prospek ekonomi selama lima tahun ke depan akan sangat menentukan apakah skenario bullish ini akan terwujud.
Tekanan Jangka Panjang dari Bank Sentral dan Penawaran Uang
Alasan paling solid yang mendukung perkiraan harga emas adalah tindakan bank sentral. Sejak 2009, bank sentral secara konsisten membeli emas, dan tren ini mempercepat setelah pembekuan cadangan devisa Rusia pada Februari 2022. Yang mengejutkan, dalam tiga tahun terakhir, bank sentral menambah cadangan emas lebih dari 1.000 ton setiap tahun, mencapai “hat-trick” secara simbolis.
Menurut statistik World Gold Council, cadangan emas resmi dunia mencapai sekitar 36.252 ton per Februari 2025, dan proporsinya terhadap total cadangan devisa mencapai 22%. Ini adalah level tertinggi sejak 1997, hampir dua kali lipat dari 9% pada 2016. Analisis Goldman Sachs memperkirakan bahwa China akan membeli emas sekitar 40 ton per bulan di masa depan, yang setara dengan permintaan hampir 500 ton per tahun.
Dari sisi penawaran uang, tekanan kenaikan jangka panjang juga jelas terlihat. Melihat sejarah 125 tahun terakhir di AS, populasi meningkat 4,5 kali lipat, sementara penawaran uang M2 membengkak sebesar 2.333 kali lipat. Di negara G20, penawaran uang meningkat rata-rata 7,4% per tahun, dan setelah periode pertumbuhan negatif, kembali memasuki fase ekspansi. Tren peningkatan penawaran uang ini secara struktural akan mendorong harga emas dalam jangka panjang.
Strategi Portofolio Baru Berdasarkan Perkiraan Harga Emas
Dalam situasi ketidakpastian yang meliputi ketidakstabilan dominasi dolar, defisit fiskal negara-negara, dan ketegangan geopolitik, portofolio konvensional 60% saham dan 40% obligasi mulai tidak efektif. Portofolio baru yang diusulkan oleh Incrementum mencerminkan kondisi ekonomi modern.
Alokasi aset baru ini meliputi: 45% saham, 15% obligasi, 15% emas (aset aman), 10% logam perak dan saham pertambangan (performance gold), 10% komoditas, dan 5% Bitcoin. Komposisi ini dirancang untuk menanggapi skenario kenaikan harga emas sekaligus menjaga stabilitas portofolio secara keseluruhan.
Yang perlu diperhatikan adalah konsep “performance gold”. Logam perak dan saham pertambangan secara historis cenderung mengikuti kenaikan emas. Melihat kembali pasar emas di era 1970-an dan 2000-an, aset pendukung ini memberikan imbal hasil yang melebihi emas. Dalam kondisi stagflasi, rata-rata pertumbuhan tahunan riil emas adalah 7,7%, sedangkan perak 28,6%, dan saham pertambangan 3,4%.
Peran Jangka Panjang Emas dan Bitcoin
Bagaimana menempatkan aset kripto dalam kerangka perkiraan harga emas adalah isu penting dalam strategi investasi modern. Bitcoin dianggap memiliki hubungan pelengkap dengan emas. Dalam ketegangan geopolitik yang meningkat, independensi Bitcoin sebagai mata uang terdesentralisasi dan kemampuannya melakukan transaksi lintas batas menawarkan alternatif yang kuat terhadap mata uang konvensional.
Saat ini, kapitalisasi pasar Bitcoin sekitar 1,9 triliun dolar (sekitar 94.200 dolar per BTC), yang setara dengan sekitar 8% dari kapitalisasi pasar emas sekitar 23 triliun dolar. Laporan Incrementum menunjukkan bahwa Bitcoin berpotensi mencapai 50% dari kapitalisasi pasar emas pada akhir 2030, yang setara dengan sekitar 900.000 dolar per BTC.
Kenaikan jangka panjang emas dan pertumbuhan Bitcoin saling memperkuat. Dengan moto “kompetisi merangsang bisnis”, kombinasi kedua aset ini berpotensi memberikan kinerja yang lebih baik daripada investasi tunggal, setelah disesuaikan risiko.
Manajemen Risiko Jangka Panjang dan Penyesuaian Jangka Pendek
Meskipun peluang skenario bullish harga emas cukup tinggi, tantangan jangka pendek tetap ada. Tren kenaikan jangka panjang tetap terjaga, tetapi faktor risiko berikut dapat menyebabkan koreksi jangka pendek:
Permintaan bank sentral yang saat ini rata-rata 250 ton per kuartal bisa menurun secara tak terduga, mengganggu fondasi permintaan struktural. Selain itu, pengurangan posisi spekulan, rebound dolar, dan penurunan premi geopolitik juga dapat menjadi faktor koreksi. Secara teknis, harga emas bisa turun ke sekitar 2.800 dolar dalam waktu singkat.
Namun, proses koreksi ini tidak mengancam tren kenaikan jangka panjang emas, melainkan dapat dianggap sebagai fase stabilisasi pasar bullish. Penting bagi investor untuk menjaga pandangan jangka panjang dan membangun strategi manajemen risiko yang konsisten untuk menanggapi fluktuasi pasar.
Titik Balik dalam Tatanan Keuangan dan Pemulihan Emas
Laporan Incrementum memandang saat ini bukan sekadar fase kenaikan harga, melainkan sebagai titik balik tatanan keuangan. Tren yang menunjukkan penggerusan industri AS, defisit fiskal yang tak terkendali, munculnya aset non-negara seperti Bitcoin, dan akumulasi besar-besaran emas oleh bank sentral menunjukkan bahwa dunia sedang mengalami reorientasi keuangan baru.
Secara jangka panjang, emas berpotensi bertransformasi dari “penstabil portofolio” menjadi “aset pembayaran super-nasional”. Dalam kondisi sistem keuangan yang kehilangan kepercayaan, emas akan berfungsi bukan sebagai alat kekuasaan politik, melainkan sebagai aset netral dan tanpa utang yang menjadi dasar perdagangan dan kepercayaan.
Dengan mempertimbangkan skenario bullish harga emas dan kondisi pasar saat ini secara komprehensif, pentingnya emas dalam strategi investasi jangka panjang semakin meningkat. Investor yang sudah memegang emas disarankan untuk mempertahankan kepemilikan, sementara mereka yang mempertimbangkan masuk ke pasar saat ini tetap memiliki peluang menarik untuk berpartisipasi.