Siaran khusus anti-korupsi CCTV episode ke-4 “Teknologi Memberdayakan Perlawanan terhadap Korupsi” baru-baru ini mengungkapkan sebuah kasus yang mengerikan—Yao, mantan Kepala Pusat Informasi Otoritas Sekuritas Tiongkok dan Kepala Pertama Institut Riset Mata Uang Digital, menggunakan mata uang virtual untuk melakukan korupsi besar-besaran. Kasus ini mengungkapkan bagaimana di era aset digital, para pelaku korupsi memanfaatkan teknologi baru untuk menyembunyikan hasil ilegal mereka, dengan aliran dana ilegal mencapai miliaran yuan.
Dompet Hardware dan Akun Topeng: Alat Teknologi untuk Anonimitas dan Penyembunyian
Penyelidikan menunjukkan bahwa Yao menggunakan dompet hardware untuk menyimpan mata uang virtual, dan membuat beberapa “akun topeng” untuk menerima dana dari bursa. Praktik ini memanfaatkan karakteristik mata uang virtual yang sulit dilacak, sehingga aliran dana ilegal miliaran yuan sulit dideteksi dalam waktu singkat. Melalui akun-akun ini, Yao berhasil memindahkan dana bonus yang disetor perusahaan ke dalam sistem aset virtual yang dikontrol secara pribadi. Akhirnya, mata uang virtual yang disembunyikan ini diubah menjadi uang tunai yuan, yang digunakan untuk membeli vila di Beijing yang terdaftar atas nama kerabat, dengan nilai properti mencapai 20 juta yuan.
Penggalangan Dana ICO dan Rebate ETH: Jalur Virtual untuk Transfer Keuntungan
Rantai korupsi yang lebih mengerikan lagi. Yao memanfaatkan kekuasaan dan koneksinya untuk membantu sebuah proyek berkomunikasi dengan bursa guna melakukan penggalangan dana ICO, dan mendapatkan sejumlah besar ETH sebagai “uang balas jasa”. Pada 2018, proyek tersebut memberikan 2000 ETH kepada Yao, yang pada saat itu bernilai hingga 60 juta yuan di pasar. Selama proses ini, bawahan Jiang Guoqing berperan sebagai perantara kunci, mengoordinasikan pengalihan dana keuntungan sebesar 12 juta yuan kepada pedagang Wang.
Konversi Uang Tunai Miliaran Yuan: Dari Aset Virtual ke Properti
Pada 2021, Yao mulai melakukan pencairan sebagian mata uang virtual. Sebanyak 370 ETH ditukar menjadi yuan, dengan total uang tunai sekitar 10 juta yuan. Uang tunai yang disembunyikan melalui mata uang virtual ini akhirnya mengalir ke pasar properti, menjadi dana pembelian rumah mewah di Beijing. Perlu dicatat bahwa dari pemberian ETH pada 2018 hingga pencairan uang tunai pada 2021, harga ETH mengalami fluktuasi yang tajam, dan Yao melakukan pencairan saat harga relatif tinggi, memperbesar keuntungan ilegal dari mata uang virtual tersebut.
Mata uang virtual karena karakteristik teknologinya dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan. Kasus ini mengingatkan kita bahwa di era ekonomi digital, upaya pemberantasan korupsi harus terus meningkatkan metode teknologi, dan melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap aliran aset virtual.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
CCTV menyelidiki secara mendalam rantai korupsi mata uang virtual: Bagaimana ETH bernilai jutaan dapat disembunyikan sebagai aset RMB
Siaran khusus anti-korupsi CCTV episode ke-4 “Teknologi Memberdayakan Perlawanan terhadap Korupsi” baru-baru ini mengungkapkan sebuah kasus yang mengerikan—Yao, mantan Kepala Pusat Informasi Otoritas Sekuritas Tiongkok dan Kepala Pertama Institut Riset Mata Uang Digital, menggunakan mata uang virtual untuk melakukan korupsi besar-besaran. Kasus ini mengungkapkan bagaimana di era aset digital, para pelaku korupsi memanfaatkan teknologi baru untuk menyembunyikan hasil ilegal mereka, dengan aliran dana ilegal mencapai miliaran yuan.
Dompet Hardware dan Akun Topeng: Alat Teknologi untuk Anonimitas dan Penyembunyian
Penyelidikan menunjukkan bahwa Yao menggunakan dompet hardware untuk menyimpan mata uang virtual, dan membuat beberapa “akun topeng” untuk menerima dana dari bursa. Praktik ini memanfaatkan karakteristik mata uang virtual yang sulit dilacak, sehingga aliran dana ilegal miliaran yuan sulit dideteksi dalam waktu singkat. Melalui akun-akun ini, Yao berhasil memindahkan dana bonus yang disetor perusahaan ke dalam sistem aset virtual yang dikontrol secara pribadi. Akhirnya, mata uang virtual yang disembunyikan ini diubah menjadi uang tunai yuan, yang digunakan untuk membeli vila di Beijing yang terdaftar atas nama kerabat, dengan nilai properti mencapai 20 juta yuan.
Penggalangan Dana ICO dan Rebate ETH: Jalur Virtual untuk Transfer Keuntungan
Rantai korupsi yang lebih mengerikan lagi. Yao memanfaatkan kekuasaan dan koneksinya untuk membantu sebuah proyek berkomunikasi dengan bursa guna melakukan penggalangan dana ICO, dan mendapatkan sejumlah besar ETH sebagai “uang balas jasa”. Pada 2018, proyek tersebut memberikan 2000 ETH kepada Yao, yang pada saat itu bernilai hingga 60 juta yuan di pasar. Selama proses ini, bawahan Jiang Guoqing berperan sebagai perantara kunci, mengoordinasikan pengalihan dana keuntungan sebesar 12 juta yuan kepada pedagang Wang.
Konversi Uang Tunai Miliaran Yuan: Dari Aset Virtual ke Properti
Pada 2021, Yao mulai melakukan pencairan sebagian mata uang virtual. Sebanyak 370 ETH ditukar menjadi yuan, dengan total uang tunai sekitar 10 juta yuan. Uang tunai yang disembunyikan melalui mata uang virtual ini akhirnya mengalir ke pasar properti, menjadi dana pembelian rumah mewah di Beijing. Perlu dicatat bahwa dari pemberian ETH pada 2018 hingga pencairan uang tunai pada 2021, harga ETH mengalami fluktuasi yang tajam, dan Yao melakukan pencairan saat harga relatif tinggi, memperbesar keuntungan ilegal dari mata uang virtual tersebut.
Mata uang virtual karena karakteristik teknologinya dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan. Kasus ini mengingatkan kita bahwa di era ekonomi digital, upaya pemberantasan korupsi harus terus meningkatkan metode teknologi, dan melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap aliran aset virtual.