Bagaimana cara menghindari memicu rasa iri orang lain? Banyak orang berpendapat bahwa untuk menghindari iri harus "rendah hati", tetapi rendah hati tidak sama dengan rendah diri, malah cenderung disalahartikan sebagai menyembunyikan keunggulan secara sengaja, sehingga menimbulkan rasa tidak suka. Cara yang benar-benar efektif bukanlah menekan diri sendiri, melainkan mendefinisikan ulang posisi hubungan antar manusia, dan mengurangi rasa kompetitif.
Pertama, ubah diri dari pesaing menjadi sumber daya. Rasa iri sering berasal dari hubungan kompetitif di bawah sadar. Jika kamu bisa membuat orang lain merasa "kamu berguna bagi dia", kompetisi akan berubah menjadi kerjasama. Misalnya saat lawan mungkin mulai merasa tidak suka, secara proaktif katakan: “Kalau nanti kamu ingin melakukan ini, aku bisa membantumu.” Ini adalah bentuk “kerangka aliansi”, ketika orang lain merasa keberhasilanmu juga bisa menguntungkan mereka, rasa iri secara alami akan berkurang.
Kedua, secara strategis biarkan orang lain menang. Banyak orang tidak membenci keunggulanmu, melainkan takut mereka tidak bisa mengalahkanmu dalam hal apapun. Cara cerdas adalah menunjukkan kelemahan secara moderat di bidang yang tidak penting, memberi ruang bagi lawan untuk menunjukkan diri. “Kesempatan posisi kecil” semacam ini dapat secara signifikan meningkatkan kedekatan dan kepercayaan.
Ketiga, tampilkan proses, bukan hasilnya. Penyebab utama munculnya iri bukanlah keberhasilan itu sendiri, melainkan “keberhasilan terlihat terlalu santai”. Hanya menunjukkan hasil mudah menciptakan kesan jarak, sedangkan berbagi proses yang penuh tekanan, kesulitan, dan usaha akan lebih mudah menimbulkan empati, bukan permusuhan.
Keempat, bangun rasa identitas, bukan rasa superior. Rasa iri hanya terjadi di antara “orang yang bisa dibandingkan”. Ketika kamu menegaskan perbedaan dan memastikan bahwa kalian tidak berada di jalur yang sama, perbandingan secara alami akan hilang. Daripada membuktikan diri lebih hebat, lebih baik tekankan bahwa tujuan dan jalur berbeda—perbedaan identitas lebih aman daripada superioritas yang menekan.
Kesimpulannya, orang biasanya tidak iri terhadap orang yang benar-benar jauh dan tidak terjangkau, melainkan terhadap mereka yang membuat diri mereka merasa “tidak sebaik” orang lain. Membuat orang lain merasa lebih baik karena kamu, bukan lebih buruk, adalah kemampuan penting untuk menghindari iri dan menjaga hubungan yang baik.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Bagaimana cara menghindari memicu rasa iri orang lain? Banyak orang berpendapat bahwa untuk menghindari iri harus "rendah hati", tetapi rendah hati tidak sama dengan rendah diri, malah cenderung disalahartikan sebagai menyembunyikan keunggulan secara sengaja, sehingga menimbulkan rasa tidak suka. Cara yang benar-benar efektif bukanlah menekan diri sendiri, melainkan mendefinisikan ulang posisi hubungan antar manusia, dan mengurangi rasa kompetitif.
Pertama, ubah diri dari pesaing menjadi sumber daya. Rasa iri sering berasal dari hubungan kompetitif di bawah sadar. Jika kamu bisa membuat orang lain merasa "kamu berguna bagi dia", kompetisi akan berubah menjadi kerjasama. Misalnya saat lawan mungkin mulai merasa tidak suka, secara proaktif katakan: “Kalau nanti kamu ingin melakukan ini, aku bisa membantumu.” Ini adalah bentuk “kerangka aliansi”, ketika orang lain merasa keberhasilanmu juga bisa menguntungkan mereka, rasa iri secara alami akan berkurang.
Kedua, secara strategis biarkan orang lain menang. Banyak orang tidak membenci keunggulanmu, melainkan takut mereka tidak bisa mengalahkanmu dalam hal apapun. Cara cerdas adalah menunjukkan kelemahan secara moderat di bidang yang tidak penting, memberi ruang bagi lawan untuk menunjukkan diri. “Kesempatan posisi kecil” semacam ini dapat secara signifikan meningkatkan kedekatan dan kepercayaan.
Ketiga, tampilkan proses, bukan hasilnya. Penyebab utama munculnya iri bukanlah keberhasilan itu sendiri, melainkan “keberhasilan terlihat terlalu santai”. Hanya menunjukkan hasil mudah menciptakan kesan jarak, sedangkan berbagi proses yang penuh tekanan, kesulitan, dan usaha akan lebih mudah menimbulkan empati, bukan permusuhan.
Keempat, bangun rasa identitas, bukan rasa superior. Rasa iri hanya terjadi di antara “orang yang bisa dibandingkan”. Ketika kamu menegaskan perbedaan dan memastikan bahwa kalian tidak berada di jalur yang sama, perbandingan secara alami akan hilang. Daripada membuktikan diri lebih hebat, lebih baik tekankan bahwa tujuan dan jalur berbeda—perbedaan identitas lebih aman daripada superioritas yang menekan.
Kesimpulannya, orang biasanya tidak iri terhadap orang yang benar-benar jauh dan tidak terjangkau, melainkan terhadap mereka yang membuat diri mereka merasa “tidak sebaik” orang lain. Membuat orang lain merasa lebih baik karena kamu, bukan lebih buruk, adalah kemampuan penting untuk menghindari iri dan menjaga hubungan yang baik.